Malam itu hujan turun pelan di atap rumah kecil yang nyaris roboh dimakan usia. Aku duduk sendiri di dekat jendela kayu yang mulai lapuk, memandangi jalanan desa yang gelap tanpa lampu. Angin dingin masuk lewat celah dinding bambu, membawa bau tanah basah dan kenangan yang tak pernah benar-benar pergi.
Sudah bertahun-tahun berlalu, tetapi aku masih sering bertanya dalam hatiā¦
Kenapa keluarga kami bisa sehancur itu?
Padahal dulu, orang-orang mengenal keluarga kami sebagai keluarga berada. Keluarga keturunan Arab yang disegani, memiliki usaha besar, toko ramai, rumah luas, dan hubungan saudara yang terlihat harmonis di depan orang lain.
Namun tidak semua yang terlihat indah benar-benar bahagia.
Di balik senyum dan jubah putih yang mereka kenakan, tersimpan persaingan, iri hati, dan dendam yang diwariskan perlahan dari satu hati ke hati lain.
Aku lahir di tengah keluarga yang sibuk mengejar dunia.
Mereka sibuk membesarkan usaha masing-masing. Sibuk menghitung keuntungan. Sibuk menjaga nama besar keluarga. Sampai akhirnya lupa menjaga hati satu sama lain.
Sedikit demi sedikit, hubungan persaudaraan berubah menjadi persaingan.
Saudara mulai saling curiga.
Saling menjatuhkan.
Saling membenci.
Hanya karena urusan bisnis.
Padahal seharusnya darah lebih mahal daripada harta.
Namun dunia sering membuat manusia lupa.
Aku tumbuh menyaksikan semua itu sejak kecil. Percakapan orang-orang dewasa di rumah tidak pernah jauh dari urusan usaha, hutang, pelanggan, dan persaingan toko. Bahkan ketika berkumpul sekalipun, yang dibicarakan tetap soal uang.
Tidak ada kehangatan.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada kedamaian yang benar-benar terasa dalam keluarga besar kami.
Aku masih ingat bagaimana Abbah sering duduk diam sendirian selepas magrib. Tatapannya kosong, seolah memendam sesuatu yang tidak pernah selesai. Wajahnya keras, tetapi matanya menyimpan luka yang dalam.
Luka karena dikhianati saudara sendiri.
Luka karena dibuang saat tidak lagi dibutuhkan.
Dan luka itu perlahan berubah menjadi dendam yang diam-diam hidup di dalam dirinya.
Dulu Abbah pernah dipercaya mengelola toko besar milik pamannya sendiri. Beliau bekerja siang malam, menjaga usaha itu seperti menjaga hidupnya sendiri. Namun ketika usaha semakin maju, rasa iri tumbuh di hati adiknya.
Fitnah mulai bertebaran.
Hasutan mulai masuk perlahan.
Sampai akhirnya Abbah disingkirkan dari tempat yang sudah ia bangun bertahun-tahun.
Tidak ada penghargaan.
Tidak ada ucapan terima kasih.
Yang ada hanya kalimat sederhana yang menghancurkan harga dirinya sebagai laki-laki.
Sejak hari itu hidup Abbah berubah.
Beliau pernah berjalan tanpa tujuan di pasar hanya untuk mencari pekerjaan kecil demi menghidupi keluarga. Pernah menahan lapar. Pernah dihina diam-diam oleh keluarganya sendiri.
Namun dari luka itulah Abbah bangkit.
Beliau membangun usaha sendiri.
Dan ironisnya, usaha itu jauh lebih sukses dibanding toko yang dulu menyingkirkannya.
Aku masih kecil ketika kehidupan kami berada di puncak kejayaan. Rumah besar, kendaraan, toko di mana-mana. Orang-orang menghormati Abbah. Semua terlihat sempurna.
Tetapi tidak ada yang tahu bahwa di balik kesuksesan itu, Abbah menyimpan luka lama yang belum sembuh.
Beliau tidak pernah melupakan bagaimana dirinya diperlakukan dulu.
Dan keluarga besar kami juga tidak pernah benar-benar menerima keberhasilan Abbah dengan hati lapang.
Mereka menganggap Abbah sombong.