Luka dari Rumah Sendiri

Nengshuwartii
Chapter #4

Keturunan Arab tidak Selalu Tau Agama.

Aku lahir di tengah keluarga yang dikenal sebagai keturunan Arab Al-Habsyi.

Nama keluarga kami cukup disegani di kampung. Orang-orang sering menganggap kami dekat dengan agama hanya karena darah keturunan yang mengalir dalam tubuh kami. Sebagian bahkan memandang keluarga kami lebih tinggi dibanding keluarga lain.

Namun semakin aku tumbuh dewasa, semakin aku sadar…

Keturunan Arab tidak selalu tahu agama.

Tidak semua yang memakai sorban memiliki hati lembut.

Tidak semua yang sering bicara tentang nasab memahami arti kasih sayang.

Dan tidak semua keluarga yang terlihat religius benar-benar hidup dalam akhlak yang baik.

Aku menyaksikan semuanya dengan mata kepalaku sendiri.

Keluarga kami pernah hidup berkecukupan. Abbah dikenal sebagai pedagang sukses. Usahanya berkembang pesat hingga memiliki beberapa cabang toko. Rumah kami besar, kendaraan ada, dan kehidupan terasa nyaman.

Tetapi kemewahan tidak selalu menghadirkan ketenangan.

Di balik semua itu, keluargaku dipenuhi perselisihan.

Saudara saling iri.

Paman saling menjatuhkan.

Sepupu saling membenci diam-diam.

Dan semuanya bermula dari urusan dunia.

Bisnis.

Harta.

Keuntungan.

Kadang aku heran, bagaimana mungkin orang-orang yang sering berbicara soal agama justru paling tega menyakiti keluarganya sendiri?

Saat keluargaku berkecukupan mereka datang dengan senyum.

Sekarang mereka datang membawa gunjingan.

Aku masih ingat bagaimana kedua orang tuaku berusaha bertahan di tengah kehancuran ekonomi.

Saat ini aku sudah merasa bahwa hidup membuatku cepat dewasa.

Aku mulai memikirkan bagaimana caranya membantu keluarga.

Setiap malam aku sulit tidur memikirkan keadaan Abbah dan Ummi di desa. Aku tahu mereka kelelahan. Aku tahu mereka menyimpan kesedihan yang besar. Tetapi mereka selalu berpura-pura kuat ketika berbicara denganku.

Suatu malam, sebuah ide muncul di kepalaku.

Aku melihat di sekitar tempat tinggalku belum ada usaha depot air minum isi ulang. Saat itu masyarakat mulai membutuhkan air bersih, sementara orang-orang harus pergi jauh hanya untuk membeli galon.

Aku berpikir…

Mungkin ini jalan kami untuk bangkit.

Dengan penuh harapan aku menyampaikan ide itu kepada kedua orang tuaku.

“Bah… bagaimana kalau kita buka usaha depot air minum isi ulang?”

Abbah diam cukup lama.

Beliau menatapku dengan mata lelah.

“Modalnya dari mana?” tanyanya pelan.

Aku terdiam.

Aku tahu keadaan kami sangat sulit. Bahkan untuk kebutuhan sehari-hari saja kami sering kekurangan. Namun entah kenapa, aku tidak bisa menghilangkan harapan itu dari pikiranku.

Aku merasa Allah sedang menunjukkan jalan sedikit demi sedikit.

Awalnya usulanku ditolak.

Bukan karena mereka tidak percaya padaku.

Tetapi karena keadaan memang benar-benar tidak memungkinkan.

Aku sempat sedih.

Malam itu aku menangis sendirian di kamar kecil kontrakan tempatku tinggal dekat sekolah. Aku merasa tidak berguna melihat kedua orang tuaku terus berjuang tanpa kepastian.

Namun di dalam hati aku terus berdoa.

“Ya Allah… kalau usaha ini memang baik, tolong bukakan jalan untuk kami.”

Lihat selengkapnya