Luka dari Rumah Sendiri

Nengshuwartii
Chapter #5

Luka yang Abbah Sembunyikan

Tidak semua luka terlihat dari air mata.

Ada luka yang bersembunyi di balik senyum seorang Ayah. Luka yang dipendam bertahun-tahun demi terlihat kuat di depan keluarganya. Luka yang tidak pernah diceritakan karena takut membuat anak-anaknya ikut hancur.

Dan aku baru menyadari semuanya ketika tubuh Abbah mulai kalah melawan sakit yang selama ini beliau sembunyikan sendiri.

Saat itu hidup kami masih penuh perjuangan. Usaha depot air minum isi ulang yang dulu hanya sebuah angan perlahan mulai berjalan, walaupun sangat jauh dari kata berhasil. Setiap hari aku membagi waktuku antara sekolah dan membantu usaha keluarga.

Pagi aku berangkat sekolah seperti anak-anak lain.

Namun sepulang sekolah, hidupku berubah menjadi perjuangan yang berbeda.

Aku harus menjaga depot air minum, membersihkan galon, mengangkat air, mencatat pelanggan, hingga membantu mengantar pesanan. Hari-hariku hampir tidak pernah benar-benar tenang.

Kadang aku melihat teman-temanku tertawa di jalan, bermain bola, bercanda tanpa beban. Sedangkan aku harus pulang cepat karena Abbah sudah menunggu bantuan di depot.

Awalnya aku merasa kuat.

Aku berpikir semua ini akan segera membaik.

Aku percaya Allah tidak mungkin membiarkan perjuangan kami sia-sia.

Hari demi hari berlalu.

Minggu berganti minggu.

Bulan demi bulan terus berjalan.

Aku dan Abbah terus berusaha mempertahankan usaha kecil itu agar tetap hidup.

Namun ternyata merintis usaha tidak semudah yang dibayangkan.

Saat itu masyarakat di sekitar kami masih belum terlalu peduli soal air bersih dan higienis. Banyak orang lebih memilih mengambil air seadanya dibanding membeli air isi ulang. Hanya sebagian kecil orang yang mulai memahami pentingnya air bersih.

Akibatnya penghasilan kami sangat kecil.

Kadang dalam sehari hanya beberapa galon yang terjual.

Padahal hutang terus menumpuk.

Biaya hidup terus berjalan.

Dan wajah Abbah mulai berubah semakin murung dari hari ke hari.

Aku sering melihat beliau termenung lama di depan depot ketika malam tiba. Tangannya memegang kepala sambil menatap jalanan yang sepi.

Beliau tidak banyak bicara lagi.

Namun aku tahu ada sesuatu yang perlahan menghancurkan pikirannya.

Beban hidup.

Hutang.

Dan luka-luka lama yang belum pernah sembuh.

Di tengah perjuangan itu, aku mulai menyadari bahwa Abbah sebenarnya sudah sangat lelah.

Kadang beliau berkata pelan kepadaku, “Mungkin kita memang tidak ditakdirkan bangkit lagi.”

Kalimat itu membuat dadaku sesak.

Karena untuk pertama kalinya aku melihat harapan mulai hilang dari mata seorang Ayah yang selama ini selalu tampak kuat.

Tetapi entah kenapa aku tidak mau menyerah.

Aku terus mencoba menyemangati kedua orang tuaku.

“Kalau kita berhenti sekarang, semua perjuangan ini sia-sia, Bah.”

Walaupun sebenarnya di dalam hati aku sendiri juga ketakutan.

Aku mulai memeras pikiranku mencari jalan keluar lain.

Sampai akhirnya muncul sebuah ide lagi dalam benakku.

Aku berpikir, mungkin usaha ini tidak akan berkembang kalau hanya menunggu pelanggan datang sendiri. Kami harus menjemput rezeki itu.

Aku mengusulkan kepada Abbah agar membeli satu unit mobil pick up untuk jualan keliling air galon.

Awalnya Abbah hanya tersenyum pahit.

“Buat makan saja susah… bagaimana beli mobil?”

Namun aku terus meyakinkan beliau.

Dan lagi-lagi, Allah menunjukkan jalan yang tidak pernah kami sangka.

Ada seseorang yang akhirnya bersedia meminjamkan uang untuk membeli mobil pick up bekas. Walaupun kondisinya sederhana dan sering mogok, bagi kami mobil itu seperti harapan baru.

Lihat selengkapnya