Tidak semua luka terlihat dari air mata.
Ada luka yang bersembunyi di balik senyum seorang Ayah. Luka yang dipendam bertahun-tahun demi terlihat kuat di depan keluarganya. Luka yang tidak pernah diceritakan karena takut membuat anak-anaknya ikut hancur.
Dan aku baru menyadari semuanya ketika tubuh Abbah mulai kalah melawan sakit yang selama ini beliau sembunyikan sendiri. Rintihan setiap malam yang sunyi dan kegelisahan saat tidur, tak ada satu pun keluarganya yang mengetahui. Abbah menyembunyikan semua yang ia rasakan dalam-dalam.
Saat itu hidup kami masih penuh perjuangan. Usaha depot air minum isi ulang yang dulu hanya sebuah angan perlahan mulai berjalan, walaupun sangat jauh dari kata berhasil. Setiap hari aku membagi waktuku antara sekolah dan membantu usaha keluarga.
Pagi aku berangkat sekolah seperti anak-anak lain.
Namun sepulang sekolah, hidupku berubah menjadi perjuangan yang berbeda.
Aku harus menjaga depot air minum, membersihkan galon, mengangkat air, mencatat pelanggan, hingga membantu mengantar pesanan. Hari-hariku hampir tidak pernah benar-benar tenang. Tak ada waktu istirahat, tak ada waktu untuk bermain, apalagi hanya sekedar tersenyum melihat langit yang cerah, semua aku lewatkan seakan hariku sudah bukan milikku lagi.
Kadang aku melihat teman-temanku tertawa di jalan, sekedar nongkrong di bawah pohon besar yang rindang, bermain bola, bercanda tanpa beban. Sedangkan aku harus pulang cepat karena Abbah sudah menunggu bantuan di depot airnya. Pelanggan yang lalu lalang membuat Abbah tersenyum senang dan membuat aku kelelahan. Tapi tetap aku syukuri, semua ini aku lakukan hanya untuk orang tuaku bisa mendapatkan penghasilan dan tercukupi kebutuhan.
Awalnya aku merasa kuat.
Aku berpikir semua ini akan segera membaik.
Aku percaya Allah tidak mungkin membiarkan perjuangan kami sia-sia.
Tapi ternyata semua tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Hari demi hari berlalu.
Minggu berganti minggu.
Bulan demi bulan terus berjalan.
Aku dan Abbah terus berusaha mempertahankan usaha kecil itu agar tetap hidup.
Namun ternyata merintis usaha tidak semudah yang dibayangkan. Tak semudah buku panduan yang sudah aku bolak balik baca dan terapkan. Tetap sabar adalah kunci utama bertahan dalam kepahitan berjualan.
Saat itu masyarakat di sekitar kami masih belum terlalu peduli soal air bersih dan higienis. Banyak orang lebih memilih mengambil air seadanya dibanding membeli air isi ulang. Hanya sebagian kecil orang yang mulai memahami pentingnya air bersih. Mereka yang sadar adalah orang-orang yang mau belajar, tidak banyak dan masih perlu banyak edukasi bahwa air bersih bukanlah air minum. Air minum adalah air yang sudah teruji klinik baik di laboratorium maupun penyaringan yang ketat, agar tubuh sehat dan jiwa menjadi semangat.
Akibatnya penghasilan kami yang masih kecil.
Kadang dalam sehari hanya beberapa galon yang terjual.
Walau ada juga hari di mana kelelahan melayani pelanggan.
Padahal hutang terus menumpuk. Tagihan berjalan dan lapar juga tak berhenti datang.
Penjualan tak membaik dan pelanggan tak kunjung bertambah.
Dan wajah Abbah mulai berubah semakin murung dari hari ke hari, dari waktu ke waktu.
Aku sering melihat beliau termenung lama di depan depot ketika malam tiba. Tangannya memegang kepala sambil menatap jalanan yang sepi. Angin membawa debu halus yang terus membuat Abbah batuk yang tak kunjung berhenti. Hari yang cerah tak membuat Abbah tersenyum indah.
Beliau tidak banyak bicara lagi. Raut wajah yang tak bisa di sembunyikan, membuat semua orang yang melihatnya akan tau.
"Kasian ya...!" ucapan pelan mereka saat melihat Abbah.
Namun aku tahu ada sesuatu yang perlahan menghancurkan pikirannya.
Beban hidup.
Hutang.
Dan luka-luka lama yang belum pernah sembuh.
Di tengah perjuangan itu, aku mulai menyadari bahwa Abbah sebenarnya sudah sangat lelah.
Kadang beliau berkata pelan kepadaku, “Mungkin kita memang tidak ditakdirkan bangkit lagi.”
Kalimat itu membuat dadaku sesak. Sakit dan ingin ikut menangis, tapi aku tidak bisa menunjukkannya, aku tidak ingin Abbah makin sedih jika aku terlihat sedih.
''Aku harus kuat." Batinku dalam hati, seakan kalimat ini terus aku ucapkan untuk mendoktrin diri agar kuat dan terus bangkit.
Karena untuk pertama kalinya aku melihat harapan mulai hilang dari mata seorang Ayah yang selama ini selalu tampak kuat, selalu tau kapan bangkit, dan tak pernah lelah berjuang. Memotivasi anak-anak mereka untuk semangat dan yakin, seakan semua hilang aura itu saat Abbah dihadapkan dengan penjualan depot air minum ini.
Tetapi entah kenapa aku tidak mau menyerah.
Aku terus mencoba menyemangati kedua orang tuaku.
“Kalau kita berhenti sekarang, semua perjuangan ini sia-sia, Bah.”
Walaupun sebenarnya di dalam hati aku sendiri juga ketakutan.
Aku mulai memeras pikiranku mencari jalan keluar lain.
Sampai akhirnya muncul sebuah ide lagi dalam benakku.
Aku berpikir, mungkin usaha ini tidak akan berkembang kalau hanya menunggu pelanggan datang sendiri. Kami harus menjemput rezeki itu. Kami harus bergerak lebih aktif, mencari cara agar bisa mendobrak yang awalnya tak lazim di lalukan dan akan menjadi lazim di kerjakan.
Aku mengusulkan kepada Abbah agar membeli satu unit mobil pick up untuk jualan keliling air galon.
Awalnya Abbah hanya tersenyum pahit.
“Buat makan saja susah… bagaimana beli mobil?”