Luka dari Rumah Sendiri

Nengshuwartii
Chapter #7

Ketika Ibu Tak Lagi Didengar

Malam itu Umar duduk sendirian di depan depot air minum yang baru saja selesai direnovasi. Lampu kecil di atas etalase menyala redup, memantulkan bayangan tubuhnya di kaca galon yang berjajar rapi. Angin malam berhembus pelan membawa aroma tanah basah sehabis hujan.

Ia memandangi depot itu lama sekali.

Tempat kecil yang dulu hampir tidak dipercaya orang kini perlahan mulai ramai pelanggan. Mesin-mesin baru berdengung pelan. Dinding yang dulu kusam kini terlihat lebih bersih dan layak. Semua itu dibangun dari tenaga, pikiran, dan waktu mudanya sendiri.

Namun anehnya…

Di tengah keberhasilan kecil itu, Umar justru merasa kosong.

Ia memang bahagia karena akhirnya usaha keluarganya mulai bangkit. Tetapi di sisi lain, ada rasa lelah yang sulit dijelaskan. Rasa sepi yang selama ini ia pendam sendiri.

Karena semakin hari Umar merasa…

Tidak ada yang benar-benar melihat perjuangannya.

Hari demi hari omzet depot air minum meningkat. Pelanggan mulai percaya pada kualitas air mereka. Orang-orang yang dulu meremehkan usaha kecil itu perlahan mulai datang membeli.

Abbah terlihat lebih tenang walaupun kondisi jantungnya belum benar-benar pulih. Ummi juga mulai bisa tersenyum lagi setelah sekian lama hidup dalam kesedihan.

Seharusnya Umar ikut bahagia sepenuhnya.

Namun kenyataannya tidak sesederhana itu.

Di usia remajanya, Umar menjalani hidup yang jauh berbeda dibanding anak-anak lain seusianya. Ketika teman-temannya sibuk bercanda sepulang sekolah, Umar justru sibuk mengangkat galon, memperbaiki mesin depot, mengantar air keliling, dan membantu orang tuanya bertahan hidup.

Hidupnya seperti tidak pernah benar-benar menjadi miliknya sendiri.

Pagi sekolah.

Siang menjaga depot.

Malam membantu menghitung pengeluaran dan memperbaiki alat-alat yang rusak.

Begitu terus setiap hari.

Sampai terkadang Umar lupa bagaimana rasanya hidup tanpa beban.

Ia tidak pernah benar-benar menikmati masa mudanya.

Yang paling membuat hatinya sakit adalah kenyataan bahwa saudara-saudaranya seolah tidak peduli. Mereka hidup dengan urusan masing-masing. Tidak ada yang benar-benar ikut memikul beratnya perjuangan keluarga.

Kadang Umar ingin marah.

Kenapa hanya dirinya yang harus ikut memikirkan hutang?

Kenapa hanya dirinya yang harus menemani Abbah berjuang dari nol?

Kenapa hanya dirinya yang harus mendengar keluhan Ummi setiap malam?

Sementara saudara-saudaranya bisa hidup lebih santai tanpa terlalu memikirkan keadaan rumah.

Tetapi setiap kali Umar ingin mengeluh, ia selalu teringat wajah Ummi.

Wajah perempuan yang selama ini diam-diam menjadi penopang keluarga mereka.

Ummi tidak pernah banyak bicara. Namun Umar tahu, perempuan itu menyimpan luka yang besar. Ia sering mendengar Ummi menangis pelan di malam hari ketika semua orang tertidur.

Kadang Umar mendengar ibunya berkata lirih kepada Abbah:

“Aku cuma ingin anak-anak kita hidup lebih baik…”

Kalimat sederhana itu selalu membuat dada Umar terasa sesak.

Karena itulah Umar terus bertahan.

Walaupun hatinya mulai lelah.

Waktu berjalan begitu cepat.

Tidak terasa Umar sudah hampir lulus SMA. Ujian nasional tinggal menghitung waktu. Namun hidupnya tidak pernah benar-benar memberi kesempatan untuk fokus menjadi pelajar biasa.

Pikirannya terus dipenuhi urusan rumah.

Tagihan.

Hutang.

Kondisi jantung Abbah.

Dan usaha depot yang harus terus berjalan.

Kadang Umar merasa seperti orang tua yang terjebak di tubuh remaja.

Ia terlalu cepat dewasa karena keadaan.

Namun yang paling membuat Umar kehilangan arah adalah konflik keluarga besar mereka yang perlahan mulai terbuka satu per satu.

Lihat selengkapnya