Luka dari Rumah Sendiri

Nengshuwartii
Chapter #8

Cinta yang Mengundang Amarah

Tidak semua anak kabur karena ingin bebas.

Sebagian pergi karena terlalu lama merasa sendirian.

Dan Umar adalah salah satunya.

Setelah pulang dari Bali, hidup Umar tidak banyak berubah. Ia kembali menjalani rutinitas yang sama seperti sebelumnya. Pagi membuka depot air minum, siang mengantar galon, malam memperbaiki mesin atau membantu menghitung pengeluaran usaha. Semua berjalan terus berulang yang membuat Umar lupa, bahwa ia juga punya kehidupan dan juga keinginan yang ingin sekali ia lakukan, semua terpendam jauh ke dalam lubuk hatinya yang terdalam karena tak mampu ia ucapkan kepada orang tuanya tersayang.

Sedangkan sekolahnya…

Berhenti di tengah jalan. Tidak ada wisuda. Tak ada hasil, perjalanan panjang sekolahnya hanya membuahkan hasil kegagalan yang bahkan sangat ia sesali, Umar masih muda, jiwa mudanya masih terus bergejolak tak mampu ia membendungnya, ia hanya butuh sedikit perhatian akan usaha dan jerih payangnya yang sudah ia lakukan semuanya untuk orang tua dan keluarganya.

Tidak ada perpisahan sekolah.

Tidak ada masa muda yang benar-benar selesai dengan indah.

Semua seolah terpotong begitu saja oleh keadaan.

Awalnya Umar mencoba menerima semuanya dengan ikhlas. Ia terus meyakinkan dirinya bahwa membantu orang tua adalah bentuk bakti. Bahwa pengorbanannya suatu hari nanti pasti akan berarti. Abbahnya akan bangga pada kerja kerasnya dan Ummi akan senang dengan hasil keringatnya, semua ia ucapkan sendiri untuk menghibur diri agar kuat melanjutkan bakti ini. Tapi sekarang Umar merasakan bahwa semua seperti kalimat kebohongan yang ia buat sendiri untuk menipu dirinya sendiri.

Semakin waktu berjalan, semakin besar rasa sesak di dalam hatinya.

Ia mulai merasa hidupnya berjalan terlalu cepat.

Teman-temannya sibuk memikirkan kuliah, pekerjaan, atau masa depan mereka sendiri. Sedangkan Umar seperti terjebak di tempat yang sama. Tak ada ucapan terima kasih, pundak yang di tepuk bangga, apalagi senyuman bahagia dari orang tuanya, Umar hanya mendapati amarah, ketidakpuasan, kekurangan dan semua hal buruk yang seakan di lempar semua ke wajah Umar yang lelah setelah seharian mengangkat galon ratusan tanpa bantuan malah hinaan yang ia terima.

Hari demi hari hanya dipenuhi tanggung jawab.

Tidak ada ruang untuk dirinya sendiri.

Yang paling membuat Umar perlahan hancur adalah kenyataan bahwa semua beban itu seolah hanya dipikul olehnya. Hanya di bebankan kepada, semua saudaranya sibuk menata masa depan mereka, sedangkan Umar setiap hari hanya sibuk menata galon yang tak ada hentinya.

Padahal orang tuanya memiliki sepuluh anak.

Tujuh laki-laki.

Tiga perempuan.

Tetapi kenapa hanya dirinya yang harus terus mengurus usaha?

Kenapa hanya dirinya yang harus menemani Abbah bangkit dari keterpurukan?

Kenapa hanya dirinya yang harus mengorbankan sekolah dan masa mudanya?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus tumbuh di dalam kepalanya seperti racun. Terasa menyayat tubuhnya sedikit demi sedikit, menyebar dan merasuk ke semua organ tubuhnya yang membuar ia tak mampu lagi bangkit jika tidak di obati.

Dan semakin hari, Umar semakin sulit mengendalikan pikirannya sendiri. Semua seakan merasuk cepat, ia pikir ini rasa yang biasa, ternyata bisa racun kesepian ini merusak seluruh organ hatinya yang mulai mati karena kecewa.

Abbah tidak pernah benar-benar memahami isi hati Umar. Bagi Abbah, apa yang dilakukan Umar adalah kewajiban anak kepada orang tua. Sedangkan Umar, diam-diam hanya ingin sedikit dimengerti. Sedikit saja untuk juga di tanya bagaimana kabarnya hari ini, sekolahnya, pelajarannya, dan yang paling penting adalah cita-citanya, karena Umar sejatinya memiliki cita-cita, impian dan juga harapan untuk masa depannya.

Sedikit saja.

Ia ingin ada seseorang yang berkata:

“Kamu sudah capek ya?”

Tetapi kalimat itu tidak pernah datang.

Yang ada hanyalah tuntutan demi tuntutan.

“Depot harus buka pagi.”

“Galon pelanggan jangan terlambat.”

“Kamu jangan malas Mar.”

Semua ucapan itu perlahan membuat Umar merasa hidupnya hanya berguna ketika ia bekerja. Tidak ada yang menanyakan apakah ia sudah makan, apakah ia sempat makan ataukah ia ingin makan.

Kalimat sederhana yang sangat Umar rindukan dari orang tuanya yang dari dulu jika Umar pikir kembali memang tidak pernah ia dapati.

Dan di tengah kekacauan batin itulah, Umar mengenal cinta. Cinta yang ternyata membuat ia buta, seakan terasa di puja dan di sayang, ternyata membuat ia menjauh dari keluarga.

Perempuan itu hadir di saat Umar sedang kehilangan arah. Tidak ada yang istimewa dari pertemuan pertama mereka. Namun perempuan itu memiliki sesuatu yang tidak pernah Umar dapatkan di rumahnya sendiri:

Perhatian, senyuman, sapaan, dan banyak hal kecil lainya yang ia dapatkan dari perempuan itu.

Ia mau mendengarkan Umar bercerita, ia dengan senang hati suka bertanya keadaan Umar, kabar keluarganya dan banyak hal-hal baru yang ternyata ada, yang ternyata bisa ia dengar dari orang yang menyayanginya.

Ia mau memahami kelelahan yang selama ini dipendam Umar sendirian. Tempat bersandar, kadang hanya tertawa kecil yang membuat Umar sangat jatuh hati kepadanya.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Umar merasa dirinya dihargai sebagai manusia. Diperhatikan dan terlihat akan keberadaannya. Umar sangat senang dan sangat bahagia.

Umar bukan hanya sekadar anak yang harus terus kuat.

Mereka mulai sering bertemu diam-diam, sembunyi-sembunyi.

Kadang hanya berbicara sederhana di sore hari, kadang hanya sengaja lewat untuk menyapa.

Lihat selengkapnya