Tidak ada anak yang benar-benar ingin dibenci oleh keluarganya sendiri.
Begitu juga Umar.
Semua yang terjadi dalam hidupnya bukanlah sesuatu yang ia rencanakan sejak awal. Umar hanya seorang anak muda yang terlalu lama hidup dalam tekanan, sampai akhirnya cinta menjadi satu-satunya tempat ia merasa tenang.
Dan mungkin, di situlah semua kekacauan itu dimulai.
Umar pertama kali mengenal perempuan itu di masa hidupnya sedang paling kacau. Saat pikirannya penuh beban keluarga, usaha depot air minum, hutang, dan pertengkaran yang tidak pernah selesai di rumah.
Perempuan itu bukan anak orang kaya.
Bukan juga perempuan yang hidup serba mewah.
Ia berasal dari keluarga sederhana yang hidup pas-pasan. Rumahnya kecil, dindingnya masih bambu anyaman, dan ibunya sering membantu tetangga demi tambahan uang belanja.
Namun entah kenapa, Umar merasa nyaman setiap kali berada di dekatnya.
Perempuan itu tidak banyak menuntut.
Tidak pernah memandang Umar dari harta.
Dan yang paling membuat Umar tersentuh, perempuan itu mau mendengarkan semua cerita hidupnya tanpa menghakimi.
Kadang mereka hanya duduk sederhana di depan rumah sambil berbicara tentang hidup.
Tentang masa depan.
Tentang rasa lelah.
Tentang impian kecil yang mungkin terdengar biasa bagi orang lain.
Tetapi bagi Umar, perempuan itu seperti tempat istirahat setelah terlalu lama hidup dalam kekacauan.
Perlahan rasa sayang tumbuh semakin dalam.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Umar merasa ada seseorang yang benar-benar menerima dirinya apa adanya.
Bukan sebagai anak yang harus selalu kuat.
Bukan sebagai tulang punggung keluarga.
Bukan sebagai anak yang dituntut terus berkorban.
Melainkan sebagai manusia biasa yang juga ingin dicintai.
Namun cinta mereka tumbuh di waktu yang salah.
Saat Umar sedang kehilangan arah.
Saat hubungan dengan keluarganya mulai memburuk.
Dan saat hatinya penuh luka yang belum sembuh.
Setelah Umar membawa perempuan itu pergi dari rumah, kemarahan keluarganya benar-benar meledak.
Abbah merasa dikhianati.
Sedangkan keluarga besar mulai membicarakan Umar seperti aib yang memalukan.
“Anak yang tidak tahu diri.”
“Sudah dibesarkan malah melawan orang tua.”
“Kasihan Abbahnya…”
Kalimat-kalimat itu terus terdengar sampai ke telinga Umar.
Dan semakin ia mendengarnya, semakin hancur hatinya.
Padahal jauh di dalam dirinya, Umar tidak pernah berniat menyakiti keluarganya.
Ia hanya ingin memiliki hidupnya sendiri.
Namun semuanya sudah terlanjur terjadi.
Di tengah kekacauan itu, Umar mengambil keputusan menikahi perempuan yang ia cintai.
Walaupun semua orang marah.
Walaupun tidak ada yang merestui.
Walaupun ia sadar hidupnya setelah ini tidak akan mudah.
Waktu itu,
dengan keberanian yang bercampur ketakutan, Umar memberanikan diri datang ke rumah ayah perempuan yang ia cintai.
Tangannya gemetar saat duduk di ruang tamu sederhana rumah tersebut.
Jantungnya berdegup sangat keras.
Karena untuk pertama kalinya, Umar benar-benar merasa menjadi laki-laki yang harus bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.
Ayah perempuan itu memandang Umar cukup lama.
Tidak ada kemewahan di rumah itu.
Hanya kursi kayu tua, dinding bambu, dan suasana sederhana khas keluarga miskin yang hidup apa adanya.
Namun anehnya, Umar justru merasa lebih tenang di sana dibanding di rumahnya sendiri.