“Ayah tidak pernah menganggapku anak lagi!”
Kalimat itu masih terus terngiang di kepala Umar, bahkan setelah sekian lama ia meninggalkan rumahnya.
Malam itu hujan turun deras di atas atap gubuk bambu tempat Umar tinggal bersama istrinya. Air menetes dari sela-sela atap yang mulai lapuk. Di sudut ruangan kecil itu, istrinya sedang tertidur sambil memeluk bayi laki-laki mereka yang baru beberapa minggu lahir ke dunia.
Sedangkan Umar…
Masih duduk diam menatap gelap malam.
Matanya sembab.
Tubuhnya lelah.
Namun pikirannya jauh lebih lelah daripada tubuhnya sendiri.
Kadang Umar bertanya dalam hati, kapan hidupnya benar-benar berubah menjadi seberat ini?
Padahal dulu ia hanyalah seorang anak yang ingin membahagiakan orang tuanya.
Tetapi sekarang…
Ia seperti orang asing bagi keluarganya sendiri.
Hari-hari setelah menikah benar-benar mengubah hidup Umar. Tidak ada lagi kenyamanan rumah orang tua. Tidak ada lagi tempat bergantung. Semua harus ia hadapi sendiri bersama istrinya.
Awalnya Umar mencoba bekerja sebagai kondektur angkutan desa. Setiap pagi ia bangun sebelum subuh, lalu ikut mobil angkutan tua yang penuh debu dan suara mesin kasar.
Panas.
Capek.
Kadang belum makan sejak pagi.
Namun Umar tetap bertahan.
Karena sekarang ada istri yang harus ia nafkahi.
Kadang penghasilannya hanya cukup untuk membeli beras dan sedikit lauk murah. Bahkan sering kali Umar pura-pura kenyang agar istrinya bisa makan lebih dulu.
Tetapi Umar tidak pernah memperlihatkan rasa lelahnya di depan istrinya.
Ia selalu berkata:
“Kita pasti bisa…”
Walaupun sebenarnya di dalam dirinya sendiri penuh ketakutan.
Setelah beberapa bulan menjadi kondektur, Umar mulai mencoba usaha lain. Apa saja ia kerjakan demi bertahan hidup.
Ia pernah berjualan es krim keliling di bawah panas matahari.
Pernah menjual pakaian bekas dari pasar ke pasar.
Pernah memperbaiki mesin depot air minum milik orang lain bermodalkan ilmu yang dulu ia pelajari sendiri.
Kadang berhasil.
Kadang gagal.
Kadang ditipu.
Kadang tidak dibayar.
Tetapi Umar tetap berjalan.
Karena ia tahu tidak ada lagi tempat untuk kembali.
Yang paling menyakitkan bukanlah kemiskinan itu sendiri.
Melainkan bagaimana keluarganya memandang dirinya setelah menikah.
Bagi mereka, Umar bukan lagi anak yang dulu membantu usaha keluarga.
Bukan lagi anak yang pernah mengorbankan sekolah demi depot air minum.
Sekarang Umar hanyalah anak pembangkang.
Anak durhaka.
Anak yang dianggap menghancurkan nama keluarga.
Bahkan Abbah sering mengatakan kepada saudara-saudaranya:
“Biarkan saja dia hidup susah. Itu akibat pilihannya sendiri!”
Kalimat itu sampai ke telinga Umar berkali-kali.
Dan setiap kali mendengarnya, hatinya seperti diremas pelan-pelan.
Suatu sore Umar pernah memberanikan diri datang ke rumah keluarganya. Ia datang dengan pakaian sederhana dan wajah penuh lelah.
Sebenarnya ia hanya ingin bertemu Ummi.
Ia rindu ibunya.
Sangat rindu.
Namun baru saja Umar masuk ke halaman rumah, suara Abbah langsung terdengar keras dari dalam rumah.
“Untuk apa datang lagi?!”
Umar terdiam.
Abbah keluar dengan wajah penuh amarah.
“Kamu belum puas mempermalukan keluarga?”