Malam itu Umar duduk di depan gubuk kecil tempat ia tinggal bersama istri dan anaknya. Angin dingin masuk dari sela-sela bambu anyaman yang mulai rapuh. Di dalam ruangan sempit itu, istrinya sedang menimang bayi mereka yang terus menangis karena susu hampir habis.
Sedangkan Umar…
Hanya mampu menundukkan kepala.
Tangannya kosong.
Tidak ada uang tersisa di sakunya.
Dan sebagai seorang ayah, tidak ada rasa yang lebih menyakitkan selain melihat anak sendiri menangis sementara dirinya tidak mampu berbuat apa-apa.
“Bang… susu tinggal sedikit…”
Suara istrinya lirih sekali.
Umar memejamkan mata.
Dadanya terasa sesak.
Hari itu ia sudah berkeliling mencari pekerjaan tambahan. Ia juga sudah mendatangi beberapa saudara dengan harapan ada sedikit bantuan. Namun yang ia dapat hanyalah tatapan dingin dan ucapan yang menghancurkan hati.
Salah satu saudaranya bahkan berkata sinis:
“Kamu sendiri yang pilih jalan hidupmu.”
Yang lain berkata lebih tajam:
“Kalau bukan karena perempuan itu, hidupmu tidak akan sehancur ini.”
Padahal Umar datang bukan untuk meminta dimanja.
Ia hanya ingin membeli susu anaknya.
Tetapi di mata keluarganya, Umar seperti anak yang pantas menerima hukuman atas semua pilihannya.
Malam itu Umar berjalan sendirian cukup jauh tanpa arah yang jelas. Jalan desa mulai sepi. Lampu-lampu rumah hanya terlihat redup dari kejauhan.
Di sepanjang langkahnya, Umar terus bertanya dalam hati:
“Kenapa hidupku seperti tidak pantas dibantu?”
Kadang ia merasa keluarganya memang sudah lama memilih siapa yang pantas dicintai dan siapa yang pantas disalahkan.
Dan Umar berada di sisi yang salah.
Sejak kecil Umar sebenarnya sudah sering melihat perbedaan perlakuan di dalam keluarganya. Ada anak yang selalu dibela walaupun salah. Ada yang selalu dimengerti keinginannya. Sedangkan dirinya sering kali harus mengalah.
Namun dulu Umar masih mencoba berpikir baik.
Sampai akhirnya hidup benar-benar mengajarinya bagaimana rasanya menjadi anak yang perlahan dijauhkan.
Malam semakin larut.
Langkah Umar akhirnya membawanya pada satu tempat yang tidak pernah ia sangka akan ia datangi.
Rumah kakeknya.
Rumah yang sudah bertahun-tahun dijauhkan dari hidup keluarganya sendiri.
Sejak kecil Umar jarang sekali mendengar cerita baik tentang nenek tirinya. Abbah sering mengatakan bahwa setelah menikah lagi, kakek berubah dan lebih memihak keluarga barunya.
Karena itulah hubungan mereka perlahan renggang.
Abbah memilih menjauh bersama anak-anaknya.
Dan sejak saat itu, Umar hampir tidak pernah bertemu lagi dengan kakek serta nenek tirinya.
Namun malam itu keadaan memaksa Umar menelan semua rasa malu.
Dengan langkah pelan dan hati penuh cemas, Umar berdiri di depan rumah sederhana itu.
Tangannya gemetar saat mengetuk pintu.
Tok… tok… tok…
Suasana begitu sunyi.
Sampai akhirnya terdengar suara perempuan tua dari dalam rumah.
“Siapa?”
Dengan suara lirih Umar menjawab:
“Assalamu’alaikum…”