Tidak semua luka datang karena kemiskinan.
Kadang, saat hidup mulai membaik dan uang mulai berdatangan, justru di situlah banyak hati perlahan kosong tanpa disadari.
Dan Umar baru memahami itu… ketika semuanya sudah terlambat.
Setelah bertahun-tahun hidup dalam kesulitan, akhirnya Allah mulai membuka jalan rezeki untuk Umar sedikit demi sedikit. Rumah tangganya yang dulu penuh tangisan kini mulai dipenuhi tawa anak-anak.
Anak pertamanya, seorang laki-laki bernama Nafin, tumbuh menjadi anak yang pendiam namun sangat lembut hatinya. Setelah itu lahirlah anak kedua mereka, seorang perempuan yang diberi nama Salmafina. Lalu beberapa tahun kemudian Allah kembali mengaruniakan dua anak perempuan lainnya, Rayafina dan Khafina.
Rumah kecil Umar yang dulu sunyi kini ramai oleh suara anak-anak.
Tangisan.
Tawa.
Rebutan mainan.
Dan suara langkah kaki kecil yang berlarian ke sana kemari.
Bagi Umar, itulah kebahagiaan yang dulu hanya bisa ia impikan.
Ia masih ingat jelas masa-masa ketika dirinya tidak mampu membeli susu untuk anak pertama mereka. Masa ketika ia dihina keluarga sendiri hanya karena hidup miskin bersama perempuan pilihannya.
Namun kini perlahan keadaan berubah.
Allah benar-benar mengangkat hidupnya sedikit demi sedikit.
Walaupun anak pertamanya, Nafin, harus tumbuh dengan kondisi kesehatan yang tidak normal akibat penyakit langka yang dideritanya sejak kecil, Umar dan istrinya tetap menjaganya dengan penuh kasih sayang.
Bahkan Umar rela bekerja siang malam demi biaya pengobatan anaknya.
Dan ketika Nafin berusia dua belas tahun, Allah akhirnya memanggil anak kecil itu kembali kepada-Nya.
Hari itu menjadi salah satu hari paling menghancurkan dalam hidup Umar.
Ia masih ingat bagaimana tubuh kecil Nafin terbujur kaku di hadapannya.
Anak yang dulu begitu ia perjuangkan.
Anak yang membuatnya menangis di ruang-ruang rumah sakit.
Anak yang mengajarkannya arti sabar.
Kini pergi meninggalkan mereka selamanya.
Saat jenazah Nafin dimasukkan ke liang lahat, Umar berdiri lama sambil menahan tangis.
Dadanya terasa kosong.
Sebagian hidupnya seperti ikut dikubur bersama tanah merah itu.
Namun Umar berusaha ikhlas.
Karena ia sadar, anak hanyalah titipan.
Dan suatu saat semua titipan pasti akan kembali kepada pemiliknya.
Setelah kepergian Nafin, Umar justru semakin sibuk bekerja.
Entah untuk mengusir kesedihan atau memang karena hidup menuntut demikian.
Di tahun 2012, Umar memiliki ide membuka usaha eceran bahan bakar kecil-kecilan.
Pertamini.
Awalnya banyak orang meremehkan usaha itu.
“Jual bensin eceran mana bisa kaya?”
Namun Umar sudah terlalu sering diremehkan hidup. Ia tidak lagi peduli dengan ucapan orang lain.
Dengan modal keberanian dan sedikit tabungan, Umar akhirnya memulai usaha itu.
Dan lagi-lagi Allah membukakan jalan.
Usahanya berkembang cukup cepat.
Pelanggan semakin ramai.
Penghasilannya meningkat.
Bahkan orang tua dan saudara-saudaranya yang dulu memandang rendah dirinya perlahan mulai berubah sikap.
Mereka mulai sadar bahwa Umar yang dulu dianggap anak gagal ternyata mampu bangkit sendiri.
Suatu hari Abbah berkata:
“Kalau mau lebih ramai, buka saja pertamininya di depan rumah.”
Awalnya Umar ragu.
Namun demi memperbaiki hubungan keluarga, akhirnya ia mengikuti saran itu.
Dan benar saja.
Usahanya semakin berkembang.
Hari demi hari kehidupan Umar mulai terasa lebih mapan.