Rumah itu masih berdiri megah.
Usaha pertamini masih berjalan lancar.
Uang masih terus masuk setiap hari.
Namun tidak ada lagi kehangatan di dalamnya.
Tidak ada lagi tawa yang dulu membuat Umar rela bekerja siang malam.
Yang tersisa hanyalah suara pertengkaran, tangisan anak-anak, dan dua hati yang perlahan berubah asing satu sama lain.
Awalnya Umar tidak pernah menyangka rumah tangganya akan hancur seperti itu.
Dulu ia dan istrinya pernah hidup susah bersama.
Pernah tidur di kamar bambu yang bocor saat hujan.
Pernah makan seadanya sambil menahan lapar.
Pernah menangis bersama ketika anak pertama mereka sakit keras.
Namun kini…
Setelah hidup mulai cukup, justru cinta mereka perlahan habis.
Dan Umar sadar, kesalahan itu bukan hanya milik istrinya.
Ia sendiri terlalu sibuk mengejar pekerjaan dan membantu banyak orang di luar rumah sampai lupa bahwa keluarganya juga membutuhkan dirinya.
Setelah usaha pertamini berkembang pesat, Umar jarang berada di rumah. Hampir setiap hari ia sibuk dengan urusan bisnis dan menemani Bibinya, Fatima, ke mana-mana.
Sedangkan istrinya perlahan hidup dalam kesepian.
Awalnya perempuan itu masih mencoba mengerti.
“Bang… anak-anak nyariin terus…”
“Nanti Abbi pulang malam.”
“Bang… Salshafina tadi sakit.”
“Iya, nanti beli obat saja.”
Semua jawaban Umar selalu tentang uang.
Tentang kebutuhan yang bisa diselesaikan dengan materi.
Padahal yang diinginkan istrinya bukan sekadar uang.
Ia ingin ditemani.
Didengar.
Dipandang sebagai pasangan hidup, bukan hanya penjaga rumah dan anak-anak.
Namun Umar terlalu sibuk untuk menyadarinya.
Hari demi hari, istrinya mulai berubah.
Ia menjadi lebih mudah marah.
Lebih dingin.
Dan tanpa sadar, kemarahan itu sering dilampiaskan kepada anak-anak.
Suatu malam Umar pulang cukup larut.
Baru saja masuk rumah, ia mendengar suara tangisan Khafina, anak bungsunya.
Anak kecil itu duduk di pojok sambil menangis ketakutan.
Sedangkan istrinya berdiri dengan wajah penuh emosi.
“Kamu apain anak?!”
“Biarin! Aku capek mengurus semuanya sendiri!”
“Dia masih kecil!”
“Terus aku harus gimana?! Kamu pikir aku robot?!”
Umar langsung memeluk Khafina yang gemetar ketakutan.
Sedangkan Salmafina dan Rayafina hanya diam di kamar sambil menangis pelan.
Malam itu Umar dan istrinya kembali bertengkar hebat.
“Kamu berubah…”
“Kamu juga berubah, Bang!”
“Aku kerja buat keluarga!”
“Tapi aku butuh kamu dan juga anak anak!”
Kalimat itu membuat Umar terdiam sesaat.
Namun egonya masih terlalu besar untuk benar-benar mendengarkan.
“Semua kebutuhan rumah cukup, kan?!”
“Rumah ini cukup uang, tapi gak itu saja yang aku mau!”