Rumah itu akhirnya kembali tenang.
Tidak ada lagi suara pertengkaran di malam hari. Tidak ada lagi tangisan penuh amarah antara suami dan istri yang saling melukai. Namun ketenangan itu justru terasa asing bagi Umar.
Karena setelah perceraian itu selesai, rumahnya berubah menjadi sunyi.
Terlalu sunyi.
Kadang Umar duduk sendiri di ruang tamu sambil memandangi tiga anak perempuannya yang mulai tumbuh besar tanpa sosok ibu di dekat mereka.
Ada yang kini mulai beranjak remaja sering membantu memasak.
Ada juga yang mulai belajar mencuci pakaian sendiri.
Sedangkan yang masih kecil sering tertidur sambil memeluk baju Umar.
“Abbi jangan pergi ya…”
Pernah suatu malam si kecil berkata begitu sambil menatap Umar dengan mata polosnya.
Umar hanya tersenyum sambil mengusap kepala anaknya.
“Kenapa?”
“Aku takut…”
Kalimat sederhana itu membuat dada Umar terasa sesak.
Karena jujur saja, ketakutan ia rasakan pada dirinya sendiri.
Sejak bercerai, Umar tidak pernah berpikir untuk menikah lagi. Luka pengkhianatan yang pernah ia rasakan masih terlalu dalam.
Ia takut salah memilih.
Takut anak-anaknya terluka.
Takut rumah tangga keduanya justru menjadi lebih hancur.
Namun ternyata anak-anaknya memiliki pemikiran yang jauh lebih dewasa daripada usianya.
Suatu malam Salmafina berkata pelan:
“Abbi… kami pengen Abbi punya teman hidup lagi.”
Umar terdiam.
“Kalian nggak takut?”
Raya langsung menjawab:
“Kami cuma pengen ada yang sayang sama Abbi…”
Kalimat itu membuat Umar hampir menangis.
Anak-anak kecil itu ternyata diam-diam memperhatikan kesepiannya.
Mereka tahu ayahnya selalu terlihat kuat di depan semua orang, tetapi sering termenung sendirian ketika malam tiba.
Dan perlahan, karena dorongan anak-anaknya itulah Umar mulai membuka hati lagi.
Bukan karena ingin melupakan masa lalu.
Tetapi karena ia sadar, anak-anak perempuannya tetap membutuhkan sosok ibu.
Hari-hari berikutnya terasa sedikit berbeda.
Kadang setelah makan malam, Umar dan anak-anaknya duduk bersama sambil bercanda tentang calon ibu sambung.
“Yang penting baik.”
“Yang penting sabar.”
“Yang penting nggak galak.”