Luka dari Rumah Sendiri

Nengshuwartii
Chapter #17

Menjemput Takdir di Desa

Langit Dumai sore itu tampak redup.

Umar duduk sendirian di teras rumah orang tuanya sambil memandangi koper kecil yang sudah ia siapkan sejak tadi pagi. Di dalam koper itu tidak banyak isi, hanya beberapa potong pakaian terbaik yang ia miliki, peci hitam kesayangannya, serta amplop berisi uang tabungan yang selama berbulan-bulan ia kumpulkan untuk perjalanan menuju Desa di Jawa Tengah.

Perjalanan menuju sebuah kehidupan baru.

Perjalanan menuju seorang perempuan yang belum pernah ia temui secara langsung.

Dan anehnya, di tengah semua ketidakpastian itu, Umar justru merasa tenang.

Sudah bertahun-tahun hidupnya dipenuhi kehilangan. Kehilangan kepercayaan, kehilangan rumah tangga, kehilangan anak pertamanya yang begitu ia cintai, bahkan kehilangan dirinya sendiri karena terlalu sibuk mengejar kehidupan.

Namun kali ini berbeda.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Umar merasa Allah sedang menuntunnya menuju sesuatu yang baik.

“Abbi jadi berangkat hari ini?”

Suara Khafina membuyarkan lamunannya.

Anak kecil itu berdiri di depan pintu sambil memeluk boneka lusuhnya.

Umar tersenyum kecil lalu membuka kedua tangannya.

Khafina langsung berlari dan memeluknya erat.

“Iya, Nak.”

“Kapan pulang?”

“Insya Allah beberapa hari lagi.”

Khafina terdiam sejenak sebelum berkata lirih:

“Nanti Abbi jangan lupa bawa Bunda pulang ya…”

Kalimat sederhana itu membuat dada Umar terasa sesak.

Ia memeluk anaknya lebih erat sambil menahan air mata.

Anak-anak itu terlalu cepat dewasa karena luka hidup.

Mereka tahu ayahnya kesepian.

Mereka tahu rumah itu terlalu lama kehilangan sosok ibu.

Dan kini mereka berharap perempuan bernama Lestari benar-benar bisa menjadi jawaban dari semua doa panjang mereka.

Persiapan pernikahan Umar sebenarnya jauh dari kata mewah.

Tidak ada gedung besar.

Tidak ada iring-iringan mobil mahal.

Tidak ada pesta megah seperti yang biasa dilakukan keluarga besar Arab di kampungnya.

Bahkan sebagian besar saudara Umar tidak bisa hadir.

Jarak antara Kota Dumai dan Desa di Jawa Tengah terlalu jauh.

Jika ditempuh lewat jalur darat dan laut, perjalanan itu bisa memakan waktu hampir dua hari.

Belum lagi biaya yang tidak sedikit.

Karena itulah hanya dua orang bibinya dan seorang adiknya yang bisa hadir.

Adiknya kebetulan sedang kuliah di Fakultas Kedokteran Muhammadiyah di Jawa, sehingga lebih mudah datang ke acara pernikahan itu.

Awalnya Umar sempat sedih.

Karena jauh di dalam hatinya, ia ingin sekali pernikahan keduanya ini disaksikan keluarga besarnya secara lengkap.

Namun Umar sadar, hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Dan kali ini, ia memilih untuk mensyukuri siapa saja yang masih mau hadir mendampinginya.

Malam sebelum keberangkatan, Umar duduk sendirian di kamar.

Ia memandangi foto anak pertamanya, Nafin.

Foto kecil yang sudah mulai kusam karena terlalu sering ia simpan di dompet.

“Nak…”

Suara Umar lirih.

“Andai kamu masih ada…”

Air matanya jatuh perlahan.

Lihat selengkapnya