Luka dari Rumah Sendiri

Nengshuwartii
Chapter #18

Rumah yang Perlahan Menyembuhkan Luka

Angin sore Kota Dumai berembus pelan ketika Umar berdiri di depan rumah orang tuanya. Langit berwarna jingga mulai redup, sementara suara azan Magrib samar terdengar dari masjid ujung gang. Di sampingnya berdiri seorang perempuan berkerudung sederhana dengan wajah teduh dan mata yang selalu menunduk sopan.

Lestari.

Perempuan yang dua minggu lalu sah menjadi istrinya.

Umar menarik napas panjang.

Rumah di depannya bukan sekadar bangunan tua yang dipenuhi kenangan. Rumah itu pernah menjadi tempat Umar menangis diam-diam ketika usahanya bangkrut. Rumah itu juga pernah menjadi tempat ia dimarahi, dihakimi, bahkan diusir setelah menikah muda tanpa restu penuh dari keluarganya.

Bertahun-tahun Umar hidup dengan perasaan bahwa dirinya selalu salah.

Selalu gagal.

Selalu menjadi anak yang mengecewakan.

Namun sore itu ia kembali.

Bukan sebagai lelaki yang lari dari masalah.

Bukan sebagai anak pembangkang.

Melainkan sebagai seorang laki-laki yang mencoba memperbaiki hidupnya.

“Abah...”

Suara kecil itu membuyarkan lamunannya.

Khafina berlari kecil dari dalam rumah lalu memeluk kaki Umar erat.

“Ini Ummi baru kita?” tanyanya polos sambil memandang Lestari.

Umar tersenyum tipis.

“Iya, Nak.”

Lestari terlihat gugup. Ia belum pernah bertemu langsung dengan anak-anak Umar sebelumnya. Selama ini mereka hanya saling mengenal lewat panggilan video dan foto.

Jujur saja, Umar takut.

Ia takut anak-anaknya menolak perempuan yang kini menjadi istrinya.

Ia takut rumah yang mulai tenang kembali dipenuhi pertengkaran.

Sebab Umar terlalu sering kehilangan kebahagiaan tepat ketika ia mulai merasa tenang.

Namun ketakutan itu perlahan runtuh.

Lestari jongkok di depan Khafina.

“Boleh Ummi peluk?” tanyanya pelan.

Tanpa ragu, Khafina langsung memeluknya.

Dari belakang pintu, Salmafina dan Rayafina ikut keluar sambil tersenyum malu-malu.

“Assalamu’alaikum...” ucap Lestari lembut.

“Wa’alaikumussalam...” jawab mereka hampir bersamaan.

Umar menunduk cepat.

Matanya mulai panas.

Ia tidak menyangka pertemuan sederhana itu terasa begitu menghangatkan hatinya.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Umar makan malam bersama keluarganya tanpa suara bentakan.

Tidak ada piring dibanting.

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada tangisan.

Hanya suara anak-anak bercanda dan sesekali tawa kecil Lestari yang terdengar malu-malu.

Namun di balik kebahagiaan itu, Umar masih menyimpan luka yang belum selesai.

Ketika semua sudah tidur, Umar duduk sendirian di teras rumah sambil memandangi langit malam.

Pikirannya kembali pada masa lalu.

Masa ketika ia pernah hidup begitu miskin sampai harus berjalan kaki mencari pinjaman uang demi membeli susu anak.

Masa ketika ia pernah dihina keluarganya sendiri.

Dan masa ketika ia kehilangan anak pertamanya, Nafin.

“Abang belum tidur?”

Tut ik datang membawa secangkir kopi.

Umar tersenyum kecil.

“Belum.”

Lestari duduk di sampingnya.

“Abang masih kepikiran sesuatu ya?”

Umar diam lama.

“Aku takut bahagia ini cuma sementara.”

Lestari memandang suaminya lembut.

“Kenapa?”

“Aku terlalu sering kehilangan.”

Kalimat itu sederhana.

Tetapi cukup membuat Lestari memahami betapa lelahnya hati Umar selama ini.

Malam itu mereka menghabiskan malam dengan melihat bintang yang seakan berkedip kehadapan mereka, tip tip tip, cahayanya terang seakan begitu dekat, cahaya mendekat seakan memanggil-manggil untuk terus ingin dilihat. Sama seperti hati Umar, bahagia itu nyata, tapi rasa sedih juga sungguh terasa nyata, dua hal yang tidak bisa dipisah juga tidak bisa dipungkiri. Mereka hanya bisa menerima rasa itu dengan ikhlas, karena mereka tau, saat malam ini usai ada terang yang akan siap menyapa.

Hari-hari berikutnya berjalan perlahan.

Lestari mulai belajar menyesuaikan diri dengan kehidupan keluarga Umar.

Ia menyadari sesuatu.

Keluarga Umar adalah keluarga pekerja keras.

Namun mereka tumbuh di lingkungan yang keras pula.

Semua sibuk mengejar uang.

Semua sibuk mempertahankan gengsi.

Dan tanpa sadar, mereka lupa bagaimana cara saling menyayangi.

Kadang dalam satu rumah, orang-orang saling diam karena menyimpan sakit hati bertahun-tahun.

Kadang candaan berubah menjadi sindiran.

Kadang bantuan berubah menjadi perhitungan.

Lestari perlahan memahami kenapa Umar tumbuh menjadi lelaki yang keras kepala dan mudah emosi.

Suatu pagi Umar duduk di depan rumah sambil memandangi usaha Pertamini miliknya.

Lestari menghampirinya.

“Abang...”

Lihat selengkapnya