Luka dari Rumah Sendiri

Nengshuwartii
Chapter #19

Luka yang Tidak Lagi Disembunyikan

Malam itu langit Kota Dumai terlihat begitu sunyi.

Umar duduk sendiri di depan rumah sambil memandangi lampu pertamini yang masih menyala redup. Angin malam berhembus perlahan membawa aroma bensin bercampur bau masakan dari warung kecil milik istrinya.

Di dalam rumah, suara tawa anak-anaknya terdengar samar.

Sudah lama Umar tidak mendengar suara rumah seramai itu.

Dulu rumahnya selalu dipenuhi pertengkaran. Teriakan. Tangisan. Dan rasa marah yang tidak pernah benar-benar selesai.

Kini perlahan semuanya berubah.

Namun di balik semua kebahagiaan kecil itu, Umar masih menyimpan sesuatu yang belum selesai.

Luka.

Luka yang selama bertahun-tahun ia kubur sendiri.

Ia menunduk pelan.

Teringat kembali bagaimana hidupnya dulu.

Tentang Abbah.

Tentang keluarganya.

Tentang rumah yang penuh persaingan.

Dan tentang dirinya yang sejak kecil tumbuh tanpa pernah benar-benar merasa didengar.

"Abang melamun lagi ya?"

Suara lembut Lestari membuyarkan pikirannya.

Perempuan itu duduk di samping Umar sambil membawa dua gelas teh hangat.

Umar tersenyum kecil.

"Tidak apa-apa... cuma ingat masa lalu."

Lestari memandang wajah suaminya pelan.

Ia tahu.

Di balik sikap keras Umar, ada hati yang sebenarnya sangat rapuh.

"Tidak semua luka harus dipendam terus, Bang," ucap Lestari lirih.

Umar diam.

Kalimat itu terasa menampar hatinya.

Sebab selama ini memang itulah yang ia lakukan.

Memendam semuanya.

Saat kecil ia melihat Abbah dihina keluarganya sendiri.

Saat remaja ia dipaksa dewasa oleh keadaan.

Saat menikah ia dianggap anak durhaka.

Saat miskin ia dicemooh.

Saat sukses ia tetap disalahkan.

Seolah apa pun yang ia lakukan tidak pernah benar di mata banyak orang.

Dan karena terlalu lama memendam semuanya, Umar tumbuh menjadi lelaki yang keras.

Cepat marah.

Sulit percaya pada orang lain.

Dan terlalu sibuk mengejar uang sampai lupa menjaga keluarganya sendiri.

Ia pernah kehilangan istri.

Hampir kehilangan anak-anaknya.

Dan nyaris kehilangan dirinya sendiri.

"Aku takut mengulang kesalahan yang sama," gumam Umar pelan.

"Kesalahan apa?"

"Aku takut terlalu sibuk lagi. Takut anak-anak merasa kehilangan ayahnya seperti dulu."

Lestari tersenyum tipis.

"Yang penting sekarang Abang sudah sadar."

Kalimat sederhana itu membuat dada Umar terasa sesak.

Selama hidupnya, baru kali ini ada seseorang yang benar-benar mencoba memahami dirinya.

Bukan menghakimi.

Bukan membandingkan.

Bukan memaksa.

Melainkan memahami.

Dan itu membuat Umar perlahan berubah.

Hari-hari mulai berjalan lebih tenang.

Warung makan kecil milik Lestari perlahan ramai.

Awalnya hanya beberapa orang yang datang.

Tetangga sekitar.

Sopir-sopir kendaraan.

Dan pelanggan pertamini.

Namun karena masakan Lestari terkenal enak dan ramah kepada semua orang, pelanggan mulai bertambah sedikit demi sedikit.

Anak-anak Umar juga mulai terlihat jauh lebih bahagia.

Salmafina sering membantu mencuci piring, membantu melayani pembeli.

Sedangkan si kecil yang masih sibuk bermain di dekat ibunya.

Rumah itu perlahan terasa hidup.

Tidak mewah.

Tidak besar.

Namun penuh kehangatan.

Sesuatu yang dulu tidak pernah benar-benar Umar rasakan.

Suatu malam, saat semua sedang makan bersama, anak keduanya tiba-tiba berkata,

"Abbi sekarang lebih sering tersenyum."

Lihat selengkapnya