Luka dari Rumah Sendiri

Nengshuwartii
Chapter #20

Semua Luka Akan Pulang

Malam ini hujan cukup deras, mengguyur warung kecil milik Lestari dan juga Pertamini milik Umar.

Air menetes dari ujung atap rumah, sementara lampu warung makan milik Lestari masih menyala hangat di samping pertamini kecil mereka.

Suasana rumah terlihat sejuk yang di bawa oleh hembusan angin saat hujan.

Namun di balik ketenangan itu, Umar duduk sendiri di ruang tamu sambil menatap foto lama keluarganya.

Foto kusam yang mulai menguning.

Foto ketika ia masih kecil.

Di sana ada Abbah.

Ada Ummi.

Ada saudara-saudaranya.

Dan ada dirinya yang dulu masih tersenyum polos, sebelum hidup perlahan mengajarinya tentang luka.

Umar mengusap foto itu pelan.

Air matanya jatuh tanpa suara.

Kadang ia bertanya dalam hati...

Kenapa hidup keluarganya harus serumit ini?

Kenapa begitu banyak kebencian tumbuh hanya karena urusan dunia?

Dan kenapa manusia sering lupa bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan?

"Abbi belum tidur?"

Suara lembut Salmafina membuat Umar tersadar.

Anak perempuannya itu kini mulai tumbuh dewasa.

Cara bicaranya mulai tenang.

Matanya mulai memahami banyak hal.

Umar tersenyum kecil.

"Belum, Nak."

Ia duduk di samping Abbinya.

"Abbi kangen sama masa lalu ya?"

Pertanyaan itu membuat Umar terdiam cukup lama.

"Abbi bukan kangen masa lalunya... Abbi cuma berharap jika dulu tidak terjadi seperti itu."

Anak perempuannya memegang tangan Abbinya.

"Kalau semua itu tidak terjadi, mungkin Abbi tidak akan jadi sekuat sekarang."

Umar menatap anaknya lama.

Kadang Allah memang menyampaikan pelajaran lewat orang-orang yang tidak pernah kita duga.

Dan malam itu, Umar merasa sedang dinasihati oleh anaknya sendiri.

Sejak menikah dengan Lestari, hidup Umar perlahan berubah.

Bukan karena hartanya bertambah banyak.

Bukan karena usahanya semakin besar.

Melainkan karena rumahnya akhirnya terasa hidup.

Lestari mengajarkan banyak hal yang dulu tidak pernah Umar pahami.

Tentang kelembutan.

Tentang tata krama.

Tentang berbicara tanpa membentak.

Tentang mendengar tanpa menghakimi.

Dan tentang keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, bukan tempat saling melukai.

Perubahan itu terasa perlahan.

Namun nyata.

Kini Umar mulai membiasakan dirinya makan bersama anak-anak.

Ia mulai belajar mendengarkan cerita mereka.

Mulai belajar menahan emosi.

Dan mulai belajar meminta maaf jika salah.

Sesuatu yang dulu hampir tidak pernah ia lakukan.

Suatu malam anaknya berkata sambil tersenyum,

"Abbi sekarang beda ya."

"Bedanya apa?"

"Lebih lembut."

Anak-anak tertawa kecil.

Umar ikut tertawa.

Namun diam-diam dadanya terasa sesak.

Berarti dulu dirinya memang terlalu keras.

Dan semua itu bukan sepenuhnya salahnya.

Ia tumbuh dalam keluarga yang terlalu sibuk bertahan hidup sampai lupa bagaimana caranya saling menyayangi.

Namun hidup tetaplah hidup.

Kadang ketika hati mulai tenang, ujian kembali datang.

Suatu pagi kondisi kesehatan Abbah kembali menurun.

Tubuhnya semakin lemah.

Jantungnya sering kambuh.

Dan Umar mulai sering bolak-balik rumah sakit.

Biaya pengobatan kembali menguras tabungan.

Obat.

Kontrol rutin.

Pemeriksaan laboratorium.

Semua membutuhkan uang.

Di sisi lain usaha pertamini mereka mulai mengalami penurunan.

Lihat selengkapnya