Rumah adalah tempat kita singgah, istirahat dan juga tempat kita memadu kasih dan sayang.
Apa jadinya jika rumah itu menumbuhkan luka, yang tidak lagi membuat siapa yang tinggal akan nyaman disana.
Saat mengingat masa lalu, Umar seakan ingin menyerah dulu, tapi saat melihat masa kini, Umar jadi tau, semua itu memang harus ia alami, ia jalani dan ia rasakan, untuk menjadikan ia sekuat ini, setegar ini dan masih tetap bisa berdiri walau dari luka yang tumbuh dari keluarganya sendiri.
Sekarang Umar sudah mengurangi untuk mengingat hal yang buruk walau tidak mudah melupakan, tapi istrinya Lestari seakan mampu menjadi perisainya sekarang dan mampu mendampingi Umar dengan baik, entah itu luka ataupun rasa.
Umar bukan laki-laki yang sempurna untuk menjadi ayah ataupun suami, tapi ia ingin berusaha semampunya untuk menjaga keluarga kecilnya yang sangat ia cintai dan sayangi.
Bukan kesempurnaan yang ia dan keluarganya harapan, tapi ketenangan dan kasih sayang dari keluarga kecil yang ia bangun dari luka dan dari rasa sakit penghianatan.
Kadang Lestari masih suka di sindir oleh keluarga Umar, bukan kata-kata kasar, tapi bahasa halus yang suka mengurusi rumah tangga mereka yang terlihat kecukupan materi tapi tidak memiliki harta benda apapun.
Lestari memang orang kampung yang jauh dari kata mapan, sedikit kecukupan dan kadang malah bisa di bilang kurang dari segi ekonomi keluarganya, Lestari sudah sering hidup susah, sudah tau rasanya hidup tidak memiliki apapun, tapi saat suami dan keluarganya di bicarakan di belakang, ia juga merasa sakit hati, hanya rasa ini ia pendam, agar suaminya tidak tambah kepikiran.
Tak banyak yang Lestari inginkan dari pernikahan kedua ini, memiliki suami yang perhatian dan tiga anak perempuan yang ia dambakan tanpa melahirkan adalah sebuah karunia serta rezeki yang Lestari sangat syukuri.
Tak pernah Lestari bersyukur lebih besar dari apa yang Allah hadirkan padanya kecuali masa ini, kehidupan yang Lestari pikir akan hancur karena perselingkuhan suami pertamanya dan juga ketidakmampuan ia memiliki keturunan, sudah hilang rasanya dan hilang sakitnya, karena Allah menggantikan yang benar-benar lebih baik.