Luka dari Rumah Sendiri

Nengshuwartii
Chapter #6

Jantung yang hampir berhenti

Sejak operasi jantung Abbah selesai, hidup kami tidak benar-benar menjadi lebih tenang.

Justru setelah itulah perjuangan yang sebenarnya dimulai.

Orang-orang mengira setelah operasi berhasil, semuanya akan kembali baik-baik saja. Mereka tidak tahu bahwa sesungguhnya kami baru saja memasuki fase hidup yang jauh lebih berat. Fase di mana rasa takut, hutang, dan luka batin bercampur menjadi satu.

Aku masih ingat jelas hari ketika Abbah diperbolehkan pulang dari Rumah Sakit Harapan Kita di Jakarta.

Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus.

Wajahnya pucat.

Langkahnya pelan.

Dan di dadanya kini tertanam alat pacu jantung yang menjadi penanda bahwa hidupnya pernah berada di ujung kematian.

Saat melihat beliau duduk lemah di kursi roda rumah sakit, dadaku terasa sesak.

Sulit dipercaya bahwa laki-laki yang dulu begitu kuat kini harus berjalan perlahan hanya untuk sekadar berpindah tempat.

Namun yang paling menyakitkan bukan kondisi fisiknya.

Melainkan bagaimana luka batin yang selama ini beliau simpan ternyata perlahan menghancurkan tubuhnya sendiri.

Aku mulai sadar…

Jantung Abbah bukan hanya sakit karena kelelahan bekerja.

Tetapi juga karena terlalu lama memendam rasa sakit sendirian.

Terlalu banyak penghinaan yang beliau telan diam-diam.

Terlalu banyak beban yang beliau pikul sendiri.

Dan terlalu lama beliau berpura-pura kuat demi keluarga.

Sepulang dari rumah sakit, dokter menyarankan agar Abbah benar-benar menjaga kondisi tubuh dan pikirannya. Beliau harus rutin kontrol ke Jakarta, minum obat setiap hari, menghindari stres, dan tidak boleh terlalu lelah.

Namun bagaimana mungkin seseorang tidak stres ketika hidupnya dipenuhi hutang?

Biaya operasi sebelumnya saja sudah membuat kami hampir kehilangan segalanya.

Mobil pick up satu-satunya sudah terjual.

Tabungan tidak ada.

Usaha berhenti sementara.

Sedangkan biaya pengobatan terus berjalan.

Setiap kali jadwal kontrol datang, kepalaku terasa penuh.

Dari mana kami mendapatkan uang lagi?

Obat jantung Abbah tidak murah.

Belum lagi biaya perjalanan, makan selama di Jakarta, dan pemeriksaan rutin yang harus dilakukan terus-menerus.

Kadang aku melihat Ummah duduk sendiri di dapur sambil menghitung uang receh di atas meja.

Wajahnya terlihat lelah.

Namun beliau tetap berusaha tersenyum di depan kami.

Aku tahu sebenarnya beliau sangat takut kehilangan Abbah.

Dan ketakutan itu juga hidup di dalam diriku setiap hari.

Di tengah keadaan itu, omongan keluarga besar kembali terdengar.

Bukannya memberi semangat, sebagian justru datang membawa penghakiman.

“Ayahmu sakit karena dulu durhaka.”

“Mungkin ini balasan hidupnya.”

“Jangan-jangan kualat sama orang tua.”

Kalimat-kalimat itu seperti racun yang perlahan menggerogoti hati kami.

Aku marah.

Sangat marah.

Bagaimana mungkin orang yang sedang sakit justru dihakimi seperti itu?

Apakah manusia begitu mudah merasa paling suci sampai berani menentukan musibah orang lain sebagai hukuman dari Allah?

Aku sering melihat Abbah hanya diam ketika mendengar ucapan-ucapan itu. Beliau tidak membalas apa pun.

Namun aku tahu di dalam hatinya, beliau terluka.

Sangat terluka.

Karena seumur hidupnya, Abbah sudah terlalu sering dipersalahkan.

Saat miskin, beliau dihina.

Saat sukses, beliau dibenci.

Saat jatuh sakit, beliau dihakimi.

Seolah apa pun yang beliau alami selalu salah di mata sebagian keluarganya sendiri.

Lihat selengkapnya