Dua bulan terasa begitu cepat.
Sejak memutuskan untuk serius dengan Lestari, hidup Umar perlahan berubah lebih cerah.
Rumah yang dulu dipenuhi kesedihan kini mulai dipenuhi harapan baru.
Anak-anaknya sangat antusias menyambut rencana pernikahan itu.
Salmafina bahkan mulai sibuk membicarakan warna baju keluarga.
Rayafina sering bercanda:
“Nanti aku mau duduk dekat Bunda Lestari.”
Sedangkan Khafina hampir setiap hari bertanya:
“Kapan Bunda datang?”
Melihat anak-anaknya kembali ceria membuat Umar merasa keputusan ini mungkin memang jalan terbaik.
Walaupun jauh di dalam dirinya masih ada rasa takut.
Takut gagal lagi.
Takut menyakiti anak-anaknya lagi.
Namun setiap kali berbicara dengan Lestari rasa takut itu perlahan hilang.
Perempuan itu selalu mampu membuat Umar merasa tenang.
Tidak banyak drama.
Tidak banyak tuntutan.
Dan yang paling membuat Umar bersyukur, Lestari menerima anak-anaknya dengan tulus.
“Aku nggak cuma ingin jadi istrimu…”
Suatu malam Lestari berkata pelan.
“Aku juga ingin belajar jadi ibu yang baik buat anak-anak.”
Kalimat itu membuat Umar diam cukup lama.
Dadanya terasa hangat.
Karena setelah semua luka dan kekacauan hidup yang pernah ia lalui, akhirnya ada seseorang yang datang tanpa membawa kebisingan.
Hanya membawa ketenangan.