Blurb
Sekon Dewandaru dan Karta Raditya datang ke Jakarta ingin tahu rasanya mengunyah debu jalanan, mengenakan dasi murahan yang mencekik leher mereka seperti tali tiang gantungan.
Di menara menjulang Tahir Group, mereka bertemu Lintang, seorang perempuan HRD yang senyumnya mampu membuat dua berandalan kampung ini mendadak percaya pada rindu.
Kapan pun cinta selalu membuat lelaki menjadi tolol, dan ambisi jabatan membuat sepasang sahabat sejati sepenanggungan dari desa ini saling mengasah pisau di balik punggung.
Mereka tidak tahu bahwa Viona, perempuan ular di balik tembok direksi, telah menyiapkan lubang kubur yang pas untuk kepolosan dua lelaki kampung yang menjijikkan.
Lalu malam jahanam itu datang, ketika sepasang suami-istri konglomerat mati, memindahkan noda merah ke kemeja putih dua bedebah yang salah tangkap.
Di dalam sel penjara yang pengap oleh bau kencing dan penyesalan, mereka akhirnya sadar bahwa hukum di kota ini lahir dari rahim pelacur tua yang sama, tak akan ada keadilan bagi si lemah seperti mereka.
Kini, dengan hati luka yang bernanah di dada, mereka harus memilih: mati membusuk sebagai kotoran kota, atau mengamuk membalaskan sakit hati.
***
Sebuah novel yang terinspirasi dari balada salah tangkap dalam puisi "Mata Luka Sengkon Karta" Karya Peri Sandi Huizche.
(Langit Berawan)