LUKA HATI SEKON DAN KARTA

Langit Berawan
Chapter #1

BAB 1. LANGKAH PERTAMA MENUJU PUNCAK MENARA GADING

Si pelacur tua yang bersolek dengan lampu neon, dan siang itu ia sedang malas menyapa dua lelaki yang baru saja turun dari angkutan kota yang pengap.

Sekon Dewandaru dan Karta Raditya berdiri di pelataran Tahir Group dengan lutut yang sedikit gemetar, menatap menara kaca yang menjulang seperti tombak raksasa yang siap menusuk langit.

Matahari membakar aspal hitam, tetapi hawa dingin yang keluar dari pintu lobi gedung itu terasa seperti embusan napas dari liang kubur di malam jumat kliwon.

Mereka mengenakan setelan jas hitam murah yang kainnya kasar dan terasa panas, dibeli dari pasar loak dengan sisa uang saku yang kian menipis.

Di leher masing-masing, melingkar seutas dasi dengan simpul yang kaku dan terlalu kencang, mencekik jakun mereka seolah-olah siap menjadi tali gantungan jika mereka gagal hari ini.

Langkah mereka dibuat tegap, sejenis ketegapan yang dipaksakan oleh dua orang kalah yang sedang berpura-pura menjadi pemenang di tanah orang asing.

Sepatu pantofel kulit sapi kurap tak berharga yang mereka pakai berdecit di atas lantai granit lobi yang begitu mengkilap, hingga Sekon bisa melihat wajahnya yang kusam dan sedikit berjerawat terpantul.

Lobi itu luas dan sunyi, menyerap suara bising jalanan Jakarta di luar sana, menyisakan keangkuhan arsitektur yang dirancang untuk mengintimidasi siapa saja yang miskin.

Orang-orang lalu-lalang dengan pakaian yang harganya mungkin setara dengan harga sawah di kampung halaman mereka yang kini sudah rata dengan tanah.

Sekon membetulkan letak kerah kemejanya yang mulai basah oleh keringat dingin, merasakan dadanya bergemuruh seperti mesin kereta fajar yang membawa mereka ke kota ini.

Di sebelahnya, Karta berjalan dengan rahang yang mengeras, matanya yang tajam menatap lurus ke depan, menolak untuk terlihat silau oleh kemewahan yang mengapung di udara.

Mereka adalah dua tubuh yang membawa bau lumpur dan kecemasan, mencoba menyelusup ke dalam mesin kapitalisme yang tidak pernah peduli pada asal-usul manusia.

Sebuah papan petunjuk digital mengarahkan mereka ke lantai empat, tempat di mana masa depan mereka sebagai staf administrasi baru akan ditentukan oleh selembar kontrak kerja.

Di dalam lift yang bergerak naik dengan senyap, bau minyak wangi mahal dari penumpang lain membuat Sekon merasa semakin asing dan telanjang dengan kemiskinannya.

Ketika pintu lift terbuka di lantai empat, wangi ruangan itu berubah, menjadi campuran aroma kertas baru, mesin cetak, dan keharuman melati yang sangat magis.

Di ujung koridor yang karpetnya empuk, seorang perempuan berdiri di balik meja kayu jati yang besar, menunggu mereka dengan sebuah map tebal di tangannya.

Lihat selengkapnya