Dari balik jendela kaca lantai empat yang tebal, Jakarta tampak seperti maket raksasa yang tidak punya hati apalagi perasaan.
Mobil-mobil merayap di bawah sana seperti kecoak besi yang berebut jalan, sementara debu jalanan mengapung menjadi kabut abu-abu yang mengotori langit.
Sekon Dewandaru berdiri diam mematung, menempelkan telapak tangannya yang masih terasa dingin pada permukaan kaca yang beku oleh hantaman pendingin ruangan.
Di sudut seberang ruangan pantry yang sunyi itu, Karta Raditya bersandar pada dinding, matanya menatap tajam ke arah langit-langit seolah menembus beton beton gedung.
Jam istirahat siang adalah jeda yang menyiksa, saat mesin-mesin cetak berhenti berderit dan menyisakan kesunyian yang justru melempar ingatan mereka pulang.
Wangi kopi sasetan yang mengapung di udara mendadak kalah oleh bau tanah kering yang terbakar matahari yang tiba-tiba melintas di hidung mereka.
Ingatan adalah binatang jalang yang suka menerkam tanpa aba-aba, membawa mereka kembali ke sebuah titik di peta bernama Desa Bojongsari.
Bojongsari bukanlah surga, ia hanyalah sekerat tanah malang di pinggiran Bekasi yang dikutuk oleh kemarau panjang bertahun-tahun.
Di sana, tanah sawah tidak berwarna hijau, melainkan kelabu dan terbelah-belah seperti kulit telapak kaki orang tua mereka yang mati muda karena batuk darah.
Sekon mengenang masa kecilnya sebagai bocah bertelanjang dada yang gemar memburu kadal di antara retakan tanah, mencari apa saja yang bisa menghibur kelaparan.
Karta adalah anak mandor air yang frustrasi karena sumur-sumur penduduk mendadak mengeluarkan bau busuk belerang dan berhenti mengalirkan kehidupan.
Mereka tumbuh bersama seperti sepasang pohon singkong yang kurus, tumbuh di atas tanah yang enggan memberi mereka nutrisi untuk menjadi besar.
Lalu suatu hari, segerombolan lelaki kota datang membawa sedan-sedan mengkilap yang rodanya mengotori jalanan kampung dengan lumpur hitam.
Lelaki-lelaki itu membawa gulungan kertas cetak biru dan membawa kabar tentang pembangunan sebuah kawasan industri yang akan menelan seluruh desa mereka.
Bojongsari tidak digusur dengan senapan, ia digusur dengan selembar uang ganti rugi yang nilainya bahkan tidak cukup untuk membeli sepetak kuburan di Jakarta.
Rumah panggung keluarga Sekon roboh dalam hitungan menit di bawah terkaman buldozer besi yang meraung seperti monster kelaparan dari dunia lain.
Ibu Sekon mati seminggu kemudian, bukan karena tertimpa runtuhan kayu, melainkan karena jantungnya berhenti berdetak saat melihat pohon mangga kesayangannya ditumbangkan.
Ayah Karta memilih gantung diri di blandar dapur yang tersisa, meninggalkan Karta yang hanya bisa menatap tali nilon yang berayun-ayun ditiup angin sore.