LUKA HATI SEKON DAN KARTA

Langit Berawan
Chapter #3

BAB 3. RAHASIA IDENTITAS LINTANG

Sekat meja kerja di lantai empat adalah barak tempat para budak kantor berkerumun, saling sikut di balik tumpukan kertas laporan yang tidak pernah selesai. Sekon Dewandaru bergerak seperti mesin yang baru saja diberi pelumas terbaik, mengetik angka-angka audit dengan kecepatan tangan yang tidak wajar bagi seorang pemula. Setiap berkas yang selesai ia rapikan dipastikan tidak memiliki cacat seujung kuku pun, semuanya harus terlihat sempurna sebelum diantar menuju ruang HRD.

Di meja seberang, Karta Raditya tidak mau kalah, matanya yang memerah menatap layar monitor komputer tanpa berkedip sedikit pun selama berjam-jam. Ia sengaja mengajukan diri untuk mengambil lembur paling larat, memindahkan kotak-kotak arsip logistik yang beratnya sanggup mematahkan pinggang lelaki dewasa.

Mereka sedang bertaruh di atas panggung yang sama, menggunakan keringat dan sisa harga diri sebagai umpan untuk memancing perhatian satu perempuan.

Setiap kali Lintang berjalan melintasi deretan sekat meja kerja dengan langkahnya yang ringan, kedua lelaki itu mendadak menegakkan punggung seperti prajurit di depan sang jenderal.

Sekon akan sengaja menjatuhkan pulpen atau menyapa dengan suara jantan yang dibuat selembut mungkin, berharap sepasang mata teduh itu akan menatapnya lebih lama.

Karta memilih jalur yang lebih kasar, ia akan berjalan membawa tumpukan dokumen tebal tepat di depan Lintang, memamerkan otot lengannya yang liat akibat tempaan masa lalu.

Lintang selalu menyambut tingkah konyol itu dengan senyuman sewarna madu, sebuah keramahan alami yang justru menyiramkan bensin ke dalam api persaingan mereka.

Bagi mereka, senyum Lintang adalah lampu hijau, sebuah isyarat bahwa salah satu dari mereka akan segera terpilih menjadi pangeran di menara kaca ini.

Hingga di sebuah senja yang gerimis mengubah seluruh dasar permainan asmara yang awalnya mereka anggap sebagai taruhan sepele antarpemuda kampung. Saat itu jam kantor telah usai, menyisakan keheningan yang ganjil di antara sekat-sekat meja yang lampu utamanya mulai dipadamkan satu per satu. Keinginan untuk melangkah lebih jauh ke dalam hidup Lintang menuntun sepasang sahabat ini ke dua persimpangan takdir yang berbeda secara bersamaan.

Karta berjalan menuju lantai dasar dengan sebuah berkas logistik kosong, berniat meletakkannya kembali ke ruang arsip utama di dekat ruang kerja pimpinan sekuriti senior. Saat melewati ruang tunggu eksekutif yang pintunya sedikit terbuka, matanya menangkap jajaran bingkai foto eksklusif yang berjejer rapi di atas dinding kayu mahoni.

Lihat selengkapnya