Di lantai paling atas menara Tohir, angin malam Jakarta tidak pernah berani mengetuk jendela, mereka hanya lewat dan menyapu dinding beton dengan rasa hormat yang dingin. Om Tahir duduk di balik meja kayunya yang luas, memandangi sebotol obat penenang yang isinya tinggal separuh, berkilau di bawah temaram lampu ruangan. Tubuhnya yang dulu tegap seperti pohon jati di pedalaman kini tampak menyusut, ringkih digerogoti oleh kanker paru-baru yang pelan-pelan memakan napasnya. Setiap kali ia terbatuk, ada rasa sakit yang menjalar hingga ke tulang belakang, sejenis peringatan dari maut bahwa kerajaannya yang megah ini akan segera kehilangan raja.
Uang miliaran di dalam rekening banknya ternyata tidak bisa membeli sepasang paru-paru baru yang bersih dari noda hitam dan penyesalan masa lalu. Tahir Group adalah monster yang ia ciptakan dari darah, air mata, dan mata air kelicikan politik korporat selama tiga puluh tahun berlalu di ibu kota. Namun, malam ini monster itu terasa terlalu besar untuk didekap oleh tangannya yang mulai gemetar dan dipenuhi bintik-bintik penuaan.
Pintu ruangan itu berderit pelan, menampilkan sosok Tante Sofia yang berjalan masuk membawa secangkir teh herbal yang aromanya pahit menenangkan.
Sofia meletakkan cangkir itu di dekat suaminya, lalu memijat pundak Om Tahir yang terasa kaku seperti batangan besi tua yang karatan. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir mereka, karena di puncak menara ini, kesunyian adalah bahasa sehari-hari bagi sepasang penguasa yang sedang ketakutan.
Pikiran Om Tahir terbang ke lantai empat, ke sebuah kubus isolasi tempat anak tunggal mereka, Lintang, menghabiskan waktu dengan memeriksa berkas karyawan.
Lintang adalah sebutir mutiara yang tumbuh di dalam kolam lumpur yang penuh lintah, terlalu suci untuk mengerti mengapa manusia suka saling menguliti demi uang. Gadis itu mewarisi mata teduh ibunya dan kelembutan seorang sufi, sejenis sifat yang sangat tabu dan berbahaya jika dibawa ke dalam ruang rapat direksi.
"Dia terlalu polos, Sofia," bisik Om Tahir akhirnya, suaranya parau seperti gesekan dua bilah papan kering di tengah kuburan.
Sofia hanya menghela napas panjang, matanya menatap pantulan lampu kota di jendela kaca, merasakan kecemasan yang sama sedang merayap di dadanya.