Kebaikan seorang perempuan, di tempat yang dikutuk oleh mesin dan beton, sering kali menjelma menjadi sejenis takhayul yang mengerikan. Lintang Kirana tidak pernah berniat menjadi iblis, tetapi ia memiliki sepasang mata teduh dan senyuman sewarna madu yang sanggup membuat urat leher lelaki mengeras seperti kawat berkarat. Ia hanyalah seorang gadis yang dididik dengan kelembutan yang berlebihan di sebuah rumah mewah, lalu dilemparkan ke lantai empat Tahir Group untuk melihat bagaimana manusia-manusia rendahan saling menguliti demi sesuap nasi. Malangnya, Lintang terlalu bebal untuk memahami bahwa di dalam dada Sekon Dewandaru dan Karta Raditya, ketulusannya telah bertransformasi menjadi racun yang pelan-pelan membunuh ingatan mereka tentang persaudaraan.
Semuanya dimulai dari perkara-perkara sepele yang semestinya dikubur bersama sampah kantor, tetapi dipelihara oleh ego yang mendadak tumbuh subur di balik jas loak mereka.
Pada suatu hari Senin yang berdebu, Lintang berjalan melewati kubikel administrasi umum dengan membawa dua botol kopi susu premium. Langkah kakinya seringan kepakan sayap burung pipit di atas hamparan padi Bojongsari sebelum mesin buldozer datang meratakannya. Ia berhenti di meja Sekon, meletakkan sebotol kopi yang dinding kacanya masih berembun, lalu menatap dasi biru milik lelaki itu yang simpulnya kaku seperti jerat babi hutan.
"Dasi yang bagus, Sekon," kata Lintang, suaranya mengalun seperti lonceng surau di sore hari. "Birunya membuatmu kelihatan seperti orang yang tahu ke mana arah masa depannya."
Sekon tidak menjawab dengan kata-kata yang masuk akal. Lidahnya mendadak kelu, lumpuh oleh bau harum melati yang menguar dari rambut Lintang. Ia hanya bisa mengangguk seperti orang tolol, sementara tangannya gemetar saat menyentuh botol kopi yang dingin. Baginya, kalimat Lintang bukan sekadar pujian dari seorang atasan HRD; itu adalah nubuat, sebuah tanda gaib bahwa takdir telah memilihnya untuk keluar dari kubang lumpur kemiskinan.
Dua jam kemudian, di dekat mesin pendingin air yang terletak di sudut lorong yang gelap, Lintang mengulang kebaikan yang sama kepada Karta Raditya. Kali ini ia tidak memuji dasi, melainkan memperhatikan bagaimana otot-otot lengan Karta menegang hebat saat mengangkat galon air cadangan.
"Kau kuat sekali, Karta," bisik Lintang sembari memberikan selembar tisu bersih untuk mengusap keringat di dahi lelaki itu. "Lelaki kota di gedung ini biasanya mengeluh hanya karena memindahkan seikat map jepit. Kau berbeda."
Karta menerima tisu itu dengan rahang yang mengatup rapat, menahan debar jantungnya yang mendadak berhantam seperti martil pandai besi. Di dalam kepala seorang anak mandor air yang frustrasi, pujian Lintang menjelma menjadi sejenis maklumat perang. Ia merasa telah memenangkan satu langkah lebih maju daripada Sekon. Ketaatan tubuhnya yang tegap telah mendapat pengakuan dari sang putri mahkota, dan di kota jahanam seperti Jakarta, pengakuan adalah mata uang yang nilainya lebih tinggi daripada emas.
Sejak hari itu, Lintang menjelma menjadi hantu yang bergentayangan di dalam mimpi-mimpi malam mereka, membelah tempat tidur kapuk di kontrakan sempit mereka menjadi dua kutub yang saling mengasuh dendam.