Dunia ini dikuasai oleh orang-orang yang tahu cara memperlakukan manusia lain seperti seonggok daging di pasar jagal, dan Viona Alamanda adalah juru potong paling berbakat yang pernah dilahirkan di bawah kolong langit Jakarta. Dari balik dinding kaca kantor Direktur Pemasaran yang berlapis warna hitam temaram, ia bisa melihat seluruh isi lantai empat Tahir Group layaknya seorang anak kecil yang sedang mengamati koloni semut di dalam akuarium plastik. Di bawah sana, Sekon Dewandaru dan Karta Raditya sedang menari-nari di atas bara api kegilaan mereka sendiri, saling menggeram dan mengasah belati di balik punggung demi memperebutkan senyuman Lintang Kirana.
Bagi Viona, pemandangan itu lebih menghibur daripada pertunjukan sirkus keliling mana pun, sekaligus menjadi jawaban paling jahanam atas doa-doa malamnya yang dipenuhi ketakutan akan kejaran penagih utang judi kasino Makau.
Ia tahu betul, sepasang bedebah dari Bojongsari itu telah lumpuh oleh sejenis racun kelaki-lakian yang purba: rasa percaya diri yang berlebihan karena urusan selangkangan. Mereka mengira kepolosan Lintang adalah sebuah undangan terselubung untuk naik ke ranjang kekuasaan, tanpa pernah sadar bahwa Lintang hanyalah umpan alami yang ditaruh takdir untuk memancing ketamakan mereka sendiri. Orang-orang miskin yang mendadak diberi wangi parfum ruangan dan dasi polyester murah selalu memiliki cacat bawaan yang sama—mereka gampang silau oleh kilau benda-benda dan sangat mudah digiring menuju lubang kubur jika di ujung talinya diikatkan sekerat paha perempuan kaya.
"Dua monyet kampung yang malang," gumam Viona sore itu, suaranya mendesis rendah bersama asap rokok mentol yang keluar dari bibirnya yang bergincu merah darah.
Jemari Viona yang berkuku panjang dan dicat hitam legam mengetuk-ngetuk permukaan meja kaca hitamnya, menciptakan irama konstan yang terdengar seperti ketukan palu hakim di ruang eksekutif. Di atas meja itu, berserakan laporan intelijen internal yang dikumpulkan sekretaris pribadinya mengenai riwayat hidup Sekon dan Karta: kisah penggusuran lahan sawah mereka, kematian tragis orang tua mereka di Bojongsari, hingga catatan medis Karta yang pernah menderita batuk darah saat mengasong di terminal. Informasi-informasi busuk itu bukan sekadar biodata karyawan bagi Viona; itu adalah rincian mengenai bahan bakar yang menggerakkan keserakahan kedua lelaki itu.
Otak licik Viona, yang telah ditempa oleh belasan tahun intrik politik korporat dan tipu daya meja judi baccarat, mulai merangkai jaring laba-laba raksasa yang sangat rapi. Ia membutuhkan sepasang tumbal bertangan kasar untuk memindahkan noda darah yang sebentar lagi akan ia tumpahkan di rumah mewah Om Tahir. Dan sore itu, ia melihat Sekon dan Karta sebagai dua pion paling sempurna yang pernah dikirimkan iblis ke dalam hidupnya—mereka ambisius, terlilit dendam masa lalu, mudah dimanipulasi dengan janji pangkat, dan yang paling penting: jika mereka berdua membusuk di penjara seumur hidup, tidak akan ada satu orang pun di kota ini yang akan menangisi nasib mereka.
Rencana besar itu harus dimulai dengan cara yang paling manis, sejenis kemanisan yang biasa ditawarkan ular kepada manusia pertama sebelum mereka diusir dari surga.
Viona menekan tombol interkom di mejanya. "Panggil Sekon Dewandaru ke ruangan saya sekarang. Pastikan dia datang sendiri tanpa membawa temannya yang berbadan tegap itu."
Lima menit kemudian, pintu kaca buram ruangan Viona berderit pelan. Sekon melangkah masuk dengan kepala yang sedikit menunduk, meremas jemarinya yang kasar untuk menyembunyikan getar gugup yang mendadak menyerang lututnya. Mengenakan setelan jas murah yang kainnya terasa kaku, Sekon merasa seperti seekor tikus got yang mendadak tersesat di dalam sarang macan tutul yang harum oleh wangi mawar Perancis dan kemewahan perabot mahoni.