LUKA HATI SEKON DAN KARTA

Langit Berawan
Chapter #8

BAB 8: JARING LABA-LABA MULAI TERBENTANG

"Kau mau mati muda atau mau mati kelaparan, Tumbal?"

Suara Viona Alamanda mengalun tipis di antara desis AC sentral ruangan Direktur Pemasaran, terdengar lebih dingin daripada sayatan silet di atas kulit ari. Di seberang meja kaca hitamnya, seorang lelaki bermata cekung dengan jaket jins dekil duduk gelisah, meremas topi petnya yang bau minyak rambut murahan. Lelaki itu adalah Tumbal, seorang bajingan kelas teri dari pelabuhan utara yang namanya sering disebut-sebut dalam catatan kriminal polsek pinggiran sebagai penagih utang bertangan besi yang tidak pernah punya belas kasihan. Namun siang itu, di hadapan perempuan bergincu merah darah itu, Tumbal merasa seperti seekor tikus celurut yang sedang ditatapi oleh seekor burung hantu raksasa.

"Dua-duanya bukan pilihan yang bagus, Nona," jawab Tumbal, suaranya parau akibat terlalu banyak menelan asap rokok murah dan kecemasan yang berhari-hari menyiksa lambungnya. "Tapi diler kasino di Makau bilang, kalau minggu ini saya tidak mengirim seratus ribu dolar, kepala saya akan dikirim ke rumah ibu saya dalam kantong plastik belanjaan."

Viona tertawa, sejenis tawa yang renyah namun tidak menyisakan kehangatan seujung kuku pun di tenggorokan. Ia membuka laci mejanya, melempar sebuah map dokumen tebal berlambang Garuda di sudut atasnya—sebuah draf laporan keuangan palsu yang selama tiga malam terakhir ia susun sendiri dengan bantuan seorang akuntan forensik pecandu judi yang ia suap. Di dalam dokumen itu, nama Om Tahir direkayasa sedemikian rupa sebagai otak di balik penggelapan dana perwalian karyawan dan pencucian uang proyek pembangunan pelabuhan fiktif di Kalimantan.

"Ini tiket keselamatanmu, Tumbal," kata Viona, jemarinya yang berkuku hitam panjang mengetuk lambang Garuda itu dengan ketukan yang ritmis dan konstan. "Di dalam sini, paman saya yang suci itu sudah resmi menjadi seorang kriminal di mata hukum. Tugasmu hanya memastikan dia tidak punya kesempatan untuk membela diri di depan hakim."

Tumbal menatap map itu dengan mata melebar, tangannya yang penuh tato jangkar mulai bergetar. "Maksud Nona... pembunuhan?"

"Jangan gunakan kata yang kasar begitu, Tumbal," desis Viona, mencondongkan tubuhnya ke depan hingga aroma parfum mawar Perancisnya yang pekat memenuhi rongga hidung lelaki itu, mengusir bau apek baju loaknya. "Kita hanya sedang membantu malaikat maut mempercepat tugasnya. Singa tua itu sudah sekarat karena kanker. Kita hanya perlu memberinya akhir yang sedikit lebih dramatis agar dunia tahu bahwa Jakarta tidak pernah ramah pada orang-orang tua yang terlalu kaya."

Intrik itu telah matang di kepala Viona layaknya buah buni yang membusuk di dahan pohon yang dikutuk. Sembari menjalin kontrak rahasia dengan jaringan dunia hitam pelabuhan melalui perantara Tumbal, tangan kanan Viona yang lain bergerak lincah di atas papan ketik komputer kantor, memalsukan manifes pengiriman barang dan nota debit divisi logistik. Ia sengaja menaruh kode-kode digital forensik yang mengarah langsung pada komputer kerja milik Sekon Dewandaru dan Karta Raditya di lantai empat. Bagi Viona, sebuah pembunuhan berencana yang agung tidak boleh menyisakan noda pada gaun sutranya; ia membutuhkan genangan lumpur yang cukup besar untuk menampung anyir darah tersebut, dan sepasang pemuda dari Bojongsari itu adalah genangan lumpur paling sempurna yang disediakan takdir.

Lihat selengkapnya