Kelicikan adalah sejenis ilmu sihir yang tidak membutuhkan kemenyan atau rapalan mantra di tengah kuburan; ia hanya membutuhkan sepasang bibir yang dipoles gincu merah menyala dan keteguhan hati seorang jagal yang tidak pernah gemetar melihat leher hewan kurban digorok. Viona Alamanda memiliki keduanya dalam takaran yang sanggup membuat malaikat maut sendiri merasa sungkan. Baginya, lantai tiga Menara Tahir Group bukan lagi sebuah kantor administrasi pemasaran yang bising oleh deru mesin faksimili dan deretan angka inflasi, melainkan sebuah panggung teater boneka di mana ia bertindak sebagai dalang yang memegang tali-tali gaib di atas kepala dua pemuda bodoh dari Bojongsari.
Umpan manis yang ia tebar kemarin telah bekerja seperti racun tikus yang pelan-pelan menggerogoti isi kepala Sekon Dewandaru dan Karta Raditya, membuat mereka tidur dengan mata separuh terbuka dan bangun dengan dada yang sesak oleh bau anyir kecemburuan.
Maka pada suatu hari Selasa yang muram, ketika langit Jakarta di luar jendela tampak kelabu seperti warna mukena tua yang jarang dicuci, Viona memutuskan untuk menarik tali kendali pertamanya lebih kencang.
Sekon Dewandaru melangkah masuk ke dalam ruangan kaca hitam itu dengan langkah seorang terpidana mati yang sedang menanti ketukan palu hakim. Kemeja putih murahnya yang kancing atasnya lepas akibat perkelahian di koridor kemarin telah diganti dengan kemeja flanel kotak-kotak yang kainnya kasar dan berbau sabun batangan murahan. Di bawah temaram lampu ruangan yang wangi mawar Perancis, Sekon melihat Viona sedang duduk menyandarkan punggungnya pada kursi kulit, memandangi selembar kertas memo dengan senyum tipis yang tampak sangat mengerikan bagi siapa saja yang memiliki akal sehat.
"Duduk, Sekon," kata Viona, suaranya mengalun lembut seperti desau angin malam di pemakaman umum. "Jangan berdiri di sana seperti patung pahlawan yang kehilangan tombaknya."
Sekon duduk dengan punggung tegak yang dipaksakan, tangannya yang penuh kapalan meremas lututnya sendiri hingga kain celananya kusut. "Ada perintah baru, Bu Direktur?"
Viona tidak langsung menjawab. Ia bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Sekon dengan gerakan yang teramat lambat, sengaja membiarkan aroma parfum mahalnya merayap ke dalam hidung pemuda itu dan mengusir sisa-sisa bau keringat terminal yang masih melekat di badannya. Ia berhenti tepat di samping kursi Sekon, lalu mencondongkan tubuhnya hingga rambut bob tajamnya menyentuh pundak kemeja Sekon.
"Saya mendengar tentang keributan di koridor lantai empat kemarin sore," bisik Viona, suaranya terdengar sangat intim, sejenis suara yang biasa dipakai para pelacur kelas atas untuk meyakinkan korbannya bahwa dunia ini aman di bawah selimut mereka. "Kau lelaki yang perkasa, Sekon. Kau mengingatkan saya pada seekor macan tutul yang sedang mempertahankan wilayah buruannya. Tapi kau terlalu jujur untuk menghadapi kelicikan seorang anak mandor air."
Dada Sekon mendadak bergemuruh hebat, rasa hangat yang asing menjalar dari tengkuknya menuju ubun-ubun. "Karta memang sudah keterlaluan, Bu. Dia mengira Lintang bisa dibeli dengan otot lengannya yang liat."
"Bukan cuma itu, Sekon," potong Viona cepat, jemarinya yang berkuku hitam panjang menyentuh dagu Sekon, memaksa pemuda itu mendongak dan menatap sepasang mata elangnya yang dingin. "Karta tidak sedang mengincar hati Lintang; dia sedang mengincar lehermu. Pagi ini, sekretaris saya menemukan selembar surat laporan rahasia yang dikirimkan Karta ke meja Direktur Utama. Di dalam surat itu, Karta meminta manajemen untuk memecatmu karena kau dituduh sering memalsukan nota bensin mobil operasional kantor demi beberapa keping uang receh."