LUKA HATI SEKON DAN KARTA

Langit Berawan
Chapter #10

BAB 10: SANG EKSEKUTOR MISTERIUS

"Kau mau minum apa, Tumbal? Di tempat seperti ini, bahkan air putih pun rasanya seperti air kencing kuda yang difermentasi," kata Viona Alamanda, suaranya mengalun tipis mengalahkan bising musik disko yang berdentum dari pengeras suara usang di sudut ruangan.

Mereka duduk di pojok paling belakang Bar Red Night sebuah tempat jahanam di dekat pelabuhan utara yang baunya merupakan campuran antara muntahan pemabuk, minyak wangi murahan para pelacur tua, dan bau amis laut yang menusuk hidung. Cahaya lampu neon merah dan biru yang berpendar redup di atas kepala mereka membuat wajah keduanya tampak seperti sepasang arwah gentayangan yang sedang bernegosiasi di pintu neraka. Di tempat seburuk ini, setelan blazer sutra merah menyala milik Viona terlihat seperti bendera perang yang salah alamat.

"Bir hitam saja, Nona. Lidah saya sudah terlalu tebal untuk merasakan racun yang lebih mahal," jawab Thomas—atau yang di dunia hitam pelabuhan lebih dikenal dengan nama Tumbal.

Lelaki itu menaruh topi pet dekilnya ke atas meja kayu yang permukaannya lengket oleh sisa tumpahan minuman. Tumbal adalah anomali yang mengerikan di dalam bar yang sempit itu. Tubuhnya luar biasa tinggi dan kekar, dengan sepasang bahu lebar yang tampak mampu mematahkan leher sapi jantan hanya dengan sekali sentakan kasar. Jaket jins dekilnya yang robek di bagian lengan seolah tidak mampu menyembunyikan gumpalan otot lengannya yang liat dan keras seperti kayu jati tua. Namun, yang membuat orang-orang di pelabuhan gemetar setiap kali berpapasan dengannya bukan sekadar ukuran tubuh raksasa itu, melainkan ciri-ciri dingin seorang jagal manusia yang melekat erat pada dirinya.

Sepasang matanya cekung, dikelilingi lingkaran hitam, namun memiliki manik mata yang konstan dan tidak pernah berkedip ramah—sejenis tatapan mata reptil yang sedang mengukur jarak sebelum menyergap mangsa. Di pipi kanannya, sebuah bekas luka sayatan pisau memanjang dari sudut mata hingga ke ujung rahang, membelah jenggot jarangnya yang kasar dan kaku. Kulit tangannya dipenuhi kapalan tebal dengan ruas-ruas jari yang membengkak, sejenis tangan yang terbiasa menggenggam gagang celurit atau mencekik tenggorokan korbannya hingga kehabisan napas dalam kesunyian gang gelap. Di bawah meja, kakinya yang dibungkus sepatu bot karet berat terus mengetuk lantai, menghitung waktu yang kian menyusut sebelum para penagih utang dari konsorsium judi baccarat Makau datang untuk menguliti kepalanya.

Viona tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang tidak menyisakan ruang bagi belas kasihan seujung kuku pun. Ia mengisap rokok mentolnya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap putihnya tepat ke arah wajah raksasa di depannya, membuat Tumbal terbatuk kecil tanpa mengalihkan pandangan matanya yang dingin.

"Saya tahu utangmu pada orang-orang Makau itu sudah mencapai leher, Tumbal," desis Viona, suaranya rendah namun memiliki daya hancur yang setara dengan ledakan dinamit di tambang batu. "Jika hari Jumat ini kau tidak menyetor lima puluh ribu dolar, mereka tidak akan hanya membunuhmu. Mereka akan membakar rumah tripleks ibumu di pinggir dermaga bersama seluruh kucing-kucing kurap peliharaannya."

Tumbal terkesiap, tubuh kekarnya menegang hingga urat-urat di lehernya yang sebesar kabel baja menonjol hitam. Rahangnya mengatup rapat hingga terdengar bunyi gemeletuk gigi yang mengerikan. "Nona memata-matai ibu saya?"

Lihat selengkapnya