"Kau mau jadi pemenang atau mau jadi bangkai yang membusuk di kolong jembatan layang, Sekon?" Suara Viona Alexandra memecah kesunyian sore yang pengap di dalam ruangan Direktur Pemasaran, terdengar seperti suara desis ular kobra yang sedang membujuk manusia pertama untuk mencicipi buah terlarang.
Di luar jendela kaca hitam besar yang menghadap langsung ke arah belantara gedung pencakar langit Jakarta, langit sore tampak merah, sewarna luka lambung yang meradang, seolah sengaja mempersiapkan diri untuk menyambut malam paling berdarah yang pernah dicatat oleh sejarah kota jahanam ini. Rintik gerimis mulai mengetuk-ngetuk dinding kaca dengan irama monoton, tetapi hawa di dalam ruangan itu terasa jauh lebih membekukan daripada udara di luar sana.
Sekon Dewandaru berdiri mematung di depan meja kaca hitam milik Viona, memegang seuntai dasi murahnya yang simpulnya kaku mencekik leher. Kemeja putih grosiran miliknya yang bagian pundaknya sudah mulai rapuh oleh cucian sabun colek murahan tampak basah oleh keringat dingin. Sepasang matanya menyala oleh sejenis kegilaan asmara yang akut—sebuah penyakit mental yang sengaja dipelihara oleh hasutan-hasutan Viona selama beberapa hari terakhir ini.
"Saya mau memenangkan Lintang, Bu. Saya mau membuktikan pada Karta bahwa anak kuli panggul sepertiku juga bisa menjadi raja di atas menara besi ini," jawab Sekon, suaranya parau dan bergetar hebat seperti mesin angkutan kota yang dipaksa menanjak di perbukitan gersang.
Viona tertawa kecil, sejenis tawa kering yang terdengar seperti suara mengikik kuda jantan. Ia bangkit dari kursi kulitnya, melangkah memutari meja dengan gerakan lambat yang sengaja memamerkan lekuk pinggulnya di balik blazer merah menyala yang sewarna dengan gincu di bibirnya. Ia berhenti tepat di depan Sekon, mencondongkan tubuhnya hingga aroma parfum mawar Perancisnya yang pekat memenuhi seluruh rongga hidung pemuda dari Bojongsari itu, mengusir bau apek baju loak yang melekat erat di badannya.
"Maka sore ini adalah waktumu untuk membuktikan ketangguhanmu, Sekon," bisik Viona, jemarinya yang berkuku panjang dan dicat hitam legam menyentuh kerah kemeja Sekon, merapikannya dengan kehangatan palsu yang sanggup membekukan aliran darah di urat nadi. "Pihak manajemen personalia di bawah baru saja menyelesaikan draf pengangkatan manajer operasional yang baru. Namamu ada di barisan paling atas, tetapi Karta sedang mencoba menyabotase berkas itu dengan cara mendekati Om Tahir langsung malam ini di rumahnya."