Kelicikan korporat selalu bekerja seperti sejenis penyakit menular akibat seksual di lokalisasi pinggiran kota; ia bergerak tanpa suara di tempat-tempat tersembunyi, merayap lewat sentuhan-sentuhan yang dikira sebagai kenikmatan, lalu mendadak membusukkan seluruh daging dan masa depan manusia dari dalam tanpa ada kesempatan untuk bertobat.
Pukul delapan malam itu, ketika lonceng Menara Tahir Group berdentang delapan kali menembus kesunyian lantai empat yang mulai gelap, Viona Alamanda telah bertransformasi seutuhnya menjadi seekor serigala betina yang liurnya berbau anyir. Siasat pertamanya telah berhasil mendepak Sekon Dewandaru ke rawa-rawa Tangerang, membiarkan pemuda kuli panggul itu tersesat bersama kepulan asap knalpot motor matiknya.
Kini, di bawah pendar pucat lampu neon koridor yang separuhnya telah dimatikan, sang korporat bersiap membuka rahang serigalanya untuk mengunyah sisa kepolosan Karta Raditya.
Jakarta di luar jendela telah kehilangan seluruh kemanusiaanya, menjelma menjadi lautan lampu merkuri yang berkedip-kedip menyerupai bintik-bintik nanah di atas tubuh seorang pelacur tua yang sedang sekarat didera demam tinggi yang tiada henti.
Karta berdiri di dalam ruangan Direktur Pemasaran dengan kedua tangan terkepal di samping paha kainnya yang kasar. Kemeja putihnya yang berbau sabun batangan murah tampak kusut di bagian lengan, menonjolkan urat-urat lengannya yang tegap—sisa-sisa kejayaan seorang kernet angkutan kota yang biasa berteriak di bawah kolong jembatan layang. Di depannya, Viona duduk bersandar pada kursi di depan meja kaca hitamnya, memegang sebatang rokok mentol yang asap putihnya mengapung menyerupai kabut misits di atas makam para leluhur Bojongsari.
"Kau lelaki yang memiliki punggung sekeras batangan rel kereta api, Karta," kata Viona, suaranya mengalun rendah. "Aku selalu menyukai bagaimana cara matamu menatap dunia ini. Mata seorang pemburu yang tahu betul kapan harus menerkam mangsa."
Karta menegakkan rahangnya yang persegi, menolak untuk terlihat silau oleh kemewahan perabot atau wangi mawar yang menguar dari balik blazer merah marun milik perempuan di depannya. "Saya hanya tidak suka melihat orang lain mengambil apa yang semestinya menjadi hak saya, Bu Direktur. Terutama jika orang itu adalah Sekon."
Viona tertawa renyah, sejenis tawa kering yang tidak menyisakan ruang bagi belas kasihan seujung kuku pun. Ia bangkit dari duduknya, melangkah memutari meja dengan gerakan lambat. Ia berhenti tepat di depan Karta, mendongak menatap sepasang mata cekung pemuda itu dengan sepasang mata elangnya yang dingin.