Maut tidak pernah mengetuk pintu dengan sopan, apalagi di sebuah rumah mewah di Jalan Sentosa 1 yang pagar besinya menjulang tinggi menyerupai tombak-tombak penjaga kuburan. Ia biasanya datang bersama rintik gerimis yang berbau anyir, menyusup lewat celah-celah daun pintu gerbang belakang yang sengaja dibiarkan menganga oleh kelicikan manusia.
Pukul sembilan malam itu, ketika lampu-lampu taman bergaya Eropa di kediaman Om Tahir meredup akibat sekring listrik yang sengaja dipadamkan dari pusat kendali, malam terkutut yang dinanti oleh Viona Alamanda akhirnya meluncur turun seperti selembar kain kafan yang basah.
Di dalam rumah berlantai granit itu, kesunyian terasa begitu padat, mengapung di antara aroma wangi kayu cendana dan bau obat-obatan dosis tinggi yang selama berbulan-bulan mengurung napas sang singa tua.
Thomas alias Tumbal melangkah membelah rerumputan basah halaman belakang dengan keheningan seekor macan yang sedang mengendus bau darah hewan kurban. Tubuhnya yang luar biasa tinggi dan kekar tampak menyerupai bayangan raksasa di bawah temaram langit Jakarta yang redup tertutup asap polusi. Jaket jins dekilnya yang robek-robek mengembang ditiup angin malam, menyembunyikan gumpalan otot lengannya yang liat dan sebilah belati berkarat berujung lancip yang ketajamannya telah diuji di atas leher para kuli pelabuhan utara. Sepasang mata cekungnya yang sewarna reptil berbisa menatap lurus ke arah jendela kaca ruang kerja lantai satu yang tirainya sedikit tersingkap.
Ia tidak perlu mematahkan kunci atau melompati barikade pengamanan yang rumit. Semuanya telah berjalan sesuai pesanan khotbah jahanam Viona di Bar El Dorado: para satpam mantan tentara telah tertidur mendengkur di pos depan setelah meneguk kopi susu yang dicampur obat tidur, dan kamera-kamera pengawas digital telah mati, menyisakan lensa-lensa kaca yang buta.
Tumbal mendorong pintu kaca geser ruang kerja dengan tangan besarnya yang dipenuhi kapalan tebal. Pintu itu terbuka tanpa suara seujung kuku pun. Di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh pendar lampu meja kerja, Om Tahir sedang duduk menyandarkan tubuh ringkihnya pada kursi besar, memegangi saputangannya yang putih bersih. Di dekatnya, Tante Sofia baru saja selesai menuangkan teh herbal hangat ke dalam cangkir porselen.
Mendengar desis gesekan pintu, sepasang pemimpin tua itu serentak menoleh. Sepasang mata Om Tahir yang mulai mengeruh digerogoti kanker paru-baru melebar keras saat melihat sesosok monster kekar dengan bekas luka sayatan pisau di pipi kanannya mendadak berdiri di tengah kegelapan ruangan mereka.
"Kau... siapa kau?" bisik Om Tahir, suaranya parau dan langsung terputus oleh batuk kering yang membuat dadanya terguncang hebat.