"Halo! Apa ini Sekon Dewandaru? Jika kau masih menganggap dirimu laki-laki dan bukan seekor kelinci penakut, datanglah ke Jalan Sentosa 1 sekarang juga! Sahabatmu Karta sedang dikepung dan digebuki preman pelabuhan di rumah Om Tahir sampai sekarat!"
Suara di balik gagang telepon genggam murah bermerek lokal itu meluncur keluar seperti desis uap ketel yang bocor, cempreng dan pecah, dikaburkan oleh derau sinyal yang timbul tenggelam di antara deru angin malam tol antarkota. Suara itu terdengar seperti suara seorang perempuan tua ketakutan yang tenggorokannya tersumbat dahak kental—sejenis penyamaran vokal yang teramat sempurna yang dihasilkan oleh Viona Alamanda menggunakan alat pengubah frekuensi digital yang ia beli dari pasar gelap elektronik Glodok.
Namun bagi Sekon Dewandaru, suara gaib itu mendarat di lubang telinganya seperti sebutir peluru timah panas yang langsung menghancurkan seluruh sisa kewarasan yang ia miliki malam itu.
"Siapa ini?! Apa yang terjadi dengan Karta?!" teriak Sekon, suaranya parau, kalah telak oleh raungan angin tol dan deru mesin truk-truk tronton bertonase besar yang melintas di samping kanan-kirinya.
"Jangan banyak tanya, Bedebah tolol! Kalau kau terlambat sepuluh menit saja, kau hanya akan menemukan tubuh sahabatmu sudah menjadi mayat yang membusuk di dalam selokan depan rumah konglomerat itu!" Klik. Sambungan telepon itu mendadak mati, menyisakan suara denging konstan yang terdengar menyerupai suara hitungan mundur dari sebuah bom waktu jahanam.
Sekon mencopot ponsel dari telinganya dengan tangan yang gemetar hebat. Ia berada tepat di kilometer tiga puluh lima jalur tol Jakarta-Tangerang, sebuah bentangan aspal kelabu yang malam itu tampak memanjang menyerupai ular sanca raksasa yang menelan kegelapan rawa-rawa mati perbatasan. Hujan gerimis yang sejak sore mengguyur ibu kota kini telah menjelma menjadi badai angin yang kasar, mencambuk wajah dan kemeja flanel kotak-kotak milik Sekon hingga kain kasarnya melekat erat di kulit dada yang kembang-kempis menahan kepanikan yang akut.