LUKA HATI SEKON DAN KARTA

Langit Berawan
Chapter #15

BAB 15: PERANGKAP SEMPURNA DI TKP

"Pak? Pak Tahir? Ini Karta, Bu Viona menyuruh saya mengantarkan dokumen logistik penting malam ini," kata Karta, suaranya mengalun gemetar membelah kesunyian teras kediaman Jalan Sentosa 1 yang teramat padat, seperti udara di dalam kuburan tua.

Langkah kaki Karta yang dibungkus pantofel karet berdecit pelan di atas lantai granit yang putih bersih. Tangan kanannya mencengkeram erat map kulit hitam pemberian Viona, sementara tangan kirinya gemetar menahan dingin yang mendadak merayap dari balik pori-pori kulitnya. Pintu rumah mewah itu menganga selebar telapak tangan, bergoyang pelan ditiup angin malam yang membawa bau rintik gerimis bercampur bau amis tembaga yang samar. Penjagaan sekuriti mantan tentara yang biasanya garang di pos depan telah lelap, digantikan oleh dengkur yang sumbang akibat obat tidur di dalam cangkir kopi mereka.

Karta melangkah lebih dalam menembus lorong yang temaram, menuju pendar lampu meja ruang kerja lantai dasar. Ketika ia melewati ambang pintu, dunianya mendadak runtuh menjadi serpihan abu yang sangat dingin.

Di bawah pendar lampu yang remang, Om Tahir duduk terkulai dengan kepala miring di atas meja kerja mahoninya. Kemeja mahalnya telah berubah rupa menjadi selembar kain merah menyala, basah dan pekat oleh aliran darah segar yang keluar dari lubang-lubang tikaman di dadanya. Di dekat kaki meja, Tante Sofia terbaring kaku dengan mata melotot menatap langit-langit, dikelilingi oleh pecahan cangkir porselen teh herbal dan genangan anyir yang mulai mengental di atas granit.

"Ya Tuhan... Pak Tahir! Ibu Sofia!" Karta menjerit, map hitam di tangannya merosot jatuh dan terbuka di atas genangan darah.

Seluruh otot di tubuh kekar mantan kernet angkot itu mendadak lemas seperti untaian tali rapia. Kegilaan ambisi pangkat dan ilusi asmara tentang Lintang Kirana yang selama beberapa minggu ini ia pelihara di kepalanya, dalam sekejap mata lenyap ditiup oleh rasa takut yang luar biasa. Dengan nekat dan tanpa pikir panjang, Karta menjatuhkan lututnya ke lantai granit yang basah. Ia merangkak maju, meraih pundak Om Tahir, mengguncang-guncang tubuh ringkih sang konglomerat yang sudah mendingin.

"Pak! Bangun, Pak! Siapa yang melakukan ini?!" teriak Karta histeris. Saat tangannya yang gemetar menyentuh dada Om Tahir yang robek, cairan merah yang kental dan hangat langsung merembes, memenuhi telapak tangannya, dan berpindah ke lengan kemejanya.

Lihat selengkapnya