LUKA HATI SEKON DAN KARTA

Langit Berawan
Chapter #16

BAB 16 : KEPUNGAN SIRINE POLISI

Dua mayat terlentang di atas permadani beludru, dan tak ada satu pun kutukan yang bisa membangkitkan mereka kembali. Di Jalan Sentosa Nomor 1, Menteng, kemewahan Jakarta mendadak lumpuh digantikan bau anyir yang pekat. 

Malam itu, takdir yang malas sedang bekerja dengan sangat rapi, menuntun selusin mobil patroli meraung-raung membelah sunyi perumahan elite, serupa jeritan anjing kelaparan yang mencium bau daging busuk. Suara sirine polisi melengking tinggi, memantul di dinding-dinding pagar beton, mengepung rumah megah milik Om Tahir, dan di saat yang sama, mengubur hidup-hidup seluruh mimpi anak muda dari kampung pelosok Bojongsari.

Sekon dan Karta berdiri mematung di tengah ruangan yang temaram, dikelilingi oleh kematian yang masih hangat. Jantung mereka memukul-mukul rongga dada seperti martil. Mereka terjebak, tentu saja. Di dunia yang penuh tipu daya ini, orang miskin selalu menjadi hidangan yang paling lezat untuk sebuah rekayasa keji. Viona Alamanda, perempuan dengan kecantikan yang sanggup membuat malaikat maut jatuh cinta sekaligus bergidik ngeri, telah mengatur panggung ini dengan ketelitian seorang arsitek profesional. Sejak pertemuan penuh foya-foya minggu lalu, Viona tahu ke mana harus mengarahkan pisau jagal. Sekon dan Karta yang tolol, yang datang jauh-jauh dari kampung ke Jakarta hanya untuk mengantarkan dokumen titipan Om Tahir, kini harus menerima kenyataan bahwa mereka telah dikepung oleh moncong senapan laras panjang. Polisi-polisi lapar itu datang secepat kilat setelah menerima panggilan darurat anonim dari telepon genggam Viona, rindu akan sebuah penangkapan yang spektakuler.

Aparat yang merangsek masuk tidak butuh khotbah berisi pesan moral atau penjelasan bertele-tele. Di bawah kilatan lampu strobo merah-biru yang berkedip-kedip konyol mirip pesta dansa di neraka, mereka mendobrak pintu depan yang sudah setengah menganga. Hal pertama yang menyambut mereka adalah pemandangan yang sangat teatrikal: dua pemuda kampung berselimut darah segar dari ujung kepala hingga ujung kaki, berdiri kaku seperti patung berhala di dekat jasad Om Tahir dan Tante Sofia. Pasangan suami istri itu mati dengan mata mendelik, leher mereka robek oleh belati perak—senjata pusaka keluarga yang sempat dipamerkan Om Tahir dengan penuh kesombongan pada obrolan makan malam di bab sebelumnya. Kini, belati terkutuk itu tergeletak pasrah tepat di dekat ujung sepatu Karta.

"Jangan bergerak! Angkat tangan atau kutembak isi kepalamu!" teriak seorang sersan berwajah keras mirip anjing bulldog, memimpin operasi dengan nafsu berburu yang meluap-luap.

Lihat selengkapnya