LUKA HATI SEKON DAN KARTA

Langit Berawan
Chapter #17

BAB 17: DUNIA LINTANG YANG RUNTUH

Sesaat sebelum Sekon dan Karta digelandang bagai bajingan…

"Papa? Mama? Lintang pulang membawa oleh-oleh dari Bandung kesukaan Papa," suara Lintang membelah sunyi ruang tengah Jalan Sentosa Nomor 1, Menteng. Suara itu terdengar renyah dan polos, seperti kepakan sayap burung gereja di pagi hari.

Tak ada jawaban. Hanya ada keheningan yang janggal, sejenis keheningan yang biasa mengendap di dasar sumur tua yang mati. Udara di dalam rumah mewah itu terasa berat, dingin, dan membawa aroma asing yang membuat bulu kuduknya meremang—bau tembaga yang berkarat bercampur amis yang pekat. Lintang melangkah lebih dalam, jemarinya masih mencengkeram erat kantong plastik hangat berisi martabak yang baru saja ia beli di ujung jalan. Namun, langkah kakinya mendadak lumpuh di ambang pintu ruang tamu.

Dunia, dengan seluruh hukum fisika dan gravitasinya, seolah runtuh tepat di atas kepala Lintang detik itu juga.

Di atas permadani beludru yang beberapa jam lalu masih bersih, dua tubuh terbujur kaku dengan posisi yang ganjil. Itu adalah Papa Tahir dan Mama Sofia. Wajah ayahnya mendelik ke langit-langit seolah sedang menuntut penjelasan dari Tuhan, sementara ibunya telentang dengan tangan menggapai kosong. Leher mereka robek, menganga seperti mulut merah yang sedang tertawa mengejek, mengalirkan darah yang kini telah membanjiri motif bunga-bunga di permadani mewah tersebut. Kantong plastik di tangan Lintang jatuh tanpa suara. Martabak manis yang masih hangat itu menggelinding di atas lantai marmer, perlahan tenggelam dalam genangan darah ibunya yang masih hangat.

"Papa... Mama..." bisik Lintang. Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan lengkingan tikus yang terjepit batu.

Sebelum otaknya sempat mencerna kematian yang begitu masif dan mendadak itu, matanya menangkap siluet lain di dalam ruangan yang temaram. Di sana, di antara jeritan sirine polisi yang kini menggila di halaman depan, dua pemuda sedang diringkus dengan kejam oleh moncong-moncong senapan. Mereka adalah Sekon dan Karta. Dua pemuda dari Bojongsari yang selama berminggu-minggu ini kerap menatap Lintang dengan pandangan memuja, dua pria yang selalu berebut perhatiannya dengan kepolosan khas orang kampung.

Lihat selengkapnya