Ruang interogasi di sudut paling belakang markas Polres Jakarta Pusat tidak pernah dirancang untuk melahirkan keadilan. Tempat itu adalah sebuah kotakĀ yang pengap, dan berbau busuk. Dinding-dindingnya yang lembab telah menyerap ribuan jeritan keputusasaan selama berpuluh-puluh tahun. Di sana, waktu seperti berhenti berputar. Tak ada jendela yang bisa membedakan apakah di luar sana matahari sedang terbit dengan megah atau malam sedang mendekap kota dengan dingin. Hanya ada sebutir lampu bohlam kuning buram yang menggantung kuyu di langit-langit, bergoyang pelan setiap kali kipas angin tua di sudut ruangan berderit memuakkan. Cahaya minim itu melemparkan bayangan-bayangan panjang yang mengerikan, menciptakan suasana yang sanggup meremukkan mental siapa saja yang didudukkan di kursi besi di bawahnya.
Di dalam kotak paling jahanam itulah Sekon dan Karta kini berada, dilingkari oleh takdir yang telah dipahat dengan sangat kejam oleh tangan-tangan tak terlihat. Tubuh kedua pemuda Bojongsari itu sudah tidak berbentuk lagi. Pakaian mereka yang semula bernoda darah Om Tahir dan Tante Sofia, kini telah koyak-koyak, basah oleh keringat dingin dan darah segar mereka sendiri. Mereka tidak lagi diinterogasi sebagai saksi, melainkan diperlakukan seperti binatang buruan yang sudah divonis bersalah sebelum persidangan dimulai. Di hadapan hukum yang telah dibutakan oleh kilauan uang, kata-kata kebenaran dari mulut orang miskin hanyalah sejenis lelucon yang mengganggu efisiensi kerja aparat.
"Bicara yang jujur, bajingan kampung! Berapa banyak uang yang kalian rampok setelah menggorok leher Tahir?" sebuah bentakan menggelegar, disusul oleh hantaman selang air karet yang tebal ke punggung Sekon.
Plakkk!
Suara hantaman itu terdengar begitu merdu di telinga para penyiksa, namun mengirimkan gelombang rasa sakit yang luar biasa hingga ke sumsum tulang Sekon. Pemuda itu melenguh, tubuhnya mengejang di atas kursi besi yang terkunci ke lantai. Rasa perih yang membakar menjalar di kulit punggungnya yang kini dipenuhi bilur-bilur keunguan. Penyerangnya adalah seorang oknum penyidik bertubuh gempal dengan kumis tebal, seorang pria yang hatinya telah lama mati dan digantikan oleh lembaran-lembaran uang kertas seratus ribuan yang diselipkan ke dalam laci mejanya oleh kaki tangan Viona beberapa jam lalu.
"Demi Allah... Pak... bukan kami," bisik Sekon dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Suaranya serak, parau, dan nyaris hilang di tenggorokan. Air matanya menetes, bercampur dengan darah yang mengalir dari pelipisnya. "Kami ke sana... karena panggilan telepon... beliau dalam bahaya..."
"Halah! Jangan sebut nama Tuhan di ruangan ini! Mulut penjahat seperti kalian tidak pantas mengucapkannya!" teriak oknum polisi lainnya yang berdiri di kegelapan sudut ruangan.