LUKA HATI SEKON DAN KARTA

Langit Berawan
Chapter #19

BAB 19: PENGHAKIMAN OLEH MEDIA

"Buatkan tajuk utama yang paling berdarah. Gunakan kata 'psikopat kampung' atau 'jagal berdarah dingin dari Bojongsari'. Masyarakat tidak butuh analisis hukum yang membosankan, mereka butuh monster untuk dibenci," ucap Viona Alamanda seraya menyesap kopi hitamnya dengan anggun di dalam ruang kerja pribadinya yang mewah di kawasan Sudirman.

Di seberang meja kaca miliknya, seorang pria paruh baya berkacamata tebal—pemimpin redaksi salah satu media cetak dan digital terbesar di Jakarta—mengangguk takzim. Di samping pria itu, seorang pemuda kurus yang dikenal sebagai koordinator buzzer papan atas ibu kota sibuk mencatat instruksi pada sabak digitalnya. Mereka adalah tentara bayaran modern; senjata mereka bukan senapan laras panjang, melainkan papan tik dan algoritma internet yang sanggup membunuh karakter seseorang hanya dalam hitungan detik.

"Semuanya sudah siap, Mbak Viona," sahut koordinator buzzer itu dengan senyum menjilat. "Mulai jam delapan pagi ini, lima ratus akun centang biru dan ribuan akun robot akan menaikkan tagar secara serentak. Kita akan membingkai kasus ini bukan sebagai perampokan biasa, melainkan sebuah tragedi asmara yang menyimpang dan penuh kegilaan."

Viona tersenyum tipis, sebuah ekspresi dingin yang tidak pernah mencapai matanya. Ia melemparkan seonggok amplop cokelat tebal berisi uang tunai pecahan seratus ribu ke atas meja, bonus awal untuk kerja kotor yang harus diselesaikan hari ini.

"Bagus. Pastikan Lintang juga terseret dalam narasi ini sebagai korban manipulasi mereka. Aku ingin publik melihat Sekon dan Karta sebagai dua binatang buas yang tidak layak mendapatkan belas kasihan, apalagi pengadilan yang adil," tambahnya dengan nada mutlak.

Lihat selengkapnya