LUKA HATI SEKON DAN KARTA

Langit Berawan
Chapter #20

BAB 20: PERSIDANGAN SANDIWARA

Gedung Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pagi itu menjelma menjadi sebuah koloseum modern, di mana keadilan bersiap untuk dieksekusi di tengah sorak-sorai kepuasan publik. Sejak fajar belum sepenuhnya menyapu langit ibu kota, pelataran gedung sudah sesak oleh ratusan manusia. Kamera-kamera televisi dengan lensa panjang berjejer seperti moncong meriam, siap membidik setiap jengkal penderitaan yang bisa diubah menjadi rating televisi. Wartawan saling sikut, sementara warga yang terlanjur terhasut oleh narasi media berkumpul di luar pagar, meneriakkan tuntutan hukuman mati. Suasana di dalam ruang sidang utama terasa begitu berat, pengap oleh kebencian yang pekat, dan seolah tidak menyisakan sejumput oksigen pun bagi kebenaran untuk sekadar bernapas.

Di kursi pesakitan, Sekon dan Karta duduk dengan tubuh yang kaku dan kepala tertunduk dalam. Pakaian kemeja putih yang mereka kenakan tampak terlalu longgar, membungkus tubuh yang kian kurus dan ringkih setelah berminggu-minggu mendekam di dalam sel yang jahanam. Bekas-bekas siksaan fisik di Polres Jakarta Pusat mungkin sudah sedikit memudar di permukaan kulit, namun batin mereka telah hancur sepenuhnya. Mereka tidak lagi terlihat seperti pemuda tangguh dari Bojongsari; mereka tampak seperti sepasang terpidana mati yang tinggal menunggu ketukan palu hakim. Di samping mereka, seorang pengacara publik yang ditunjuk negara duduk dengan wajah mengantuk, sesekali memeriksa jam tangannya tanpa minat sedikit pun untuk mempelajari berkas perkara yang tebalnya ratusan halaman itu.

Ketika majelis hakim yang dipimpin oleh seorang pria paruh baya berwajah masai memasuki ruangan, ketukan palu pertama menggema, menandai dimulainya sidang perdana yang sesungguhnya tak lebih dari sebuah sandiwara teatrikal yang mahal. Jaksa Penuntut Umum membacakan dakwaan dengan suara bariton yang menggelegar, mengulangi setiap jengkal kebohongan yang diproduksi oleh mesin propaganda Viona Alamanda. Sekon dan Karta digambarkan sebagai monster tak berhati yang tega merampok dan membantai majikan mereka sendiri demi harta dan nafsu asmara yang menyimpang. Setiap kata dalam dakwaan itu terasa seperti paku yang menancap semakin dalam ke peti mati masa depan kedua pemuda itu.

"Saksi selanjutnya, Saudari Viona Alamanda, dipersilakan memasuki ruang sidang," suara panitera menggema lewat pengeras suara yang sedikit berdengung.

Pintu besar di bagian belakang ruang sidang terbuka, dan seluruh pasang mata mendadak tertuju ke sana. Viona Alamanda melangkah masuk dengan keanggunan yang luar biasa menakutkan. Ia mengenakan gaun hitam polos yang elegan namun memancarkan aura kedukaan yang mendalam. Wajah porselennya tampak pucat tanpa riasan berlebih, menyiratkan gambaran seorang keponakan yang hancur karena kehilangan paman dan ibunya secara tragis. Rambutnya diikat rapi ke belakang, memperlihatkan gurat kesedihan yang telah dirancang dengan sangat presisi di depan cermin ruang riasnya sebelum ia menginjakkan kaki di pengadilan.

Dengan langkah yang sengaja dibuat sedikit goyah—seolah-olah berat tubuhnya tak sanggup lagi ditopang oleh rasa duka—Viona berjalan menuju kursi saksi. Dua orang petugas wanita bahkan harus memegangi lengannya dengan takzim, memberikan impresi instan kepada majelis hakim bahwa perempuan di depan mereka adalah korban yang sangat rapuh. Setelah meletakkan tangan di atas kitab suci dan mengucapkan sumpah dengan suara yang bergetar halus, Viona duduk dan menghadap ke arah majelis hakim.

"Saudari saksi, bisa Anda jelaskan apa yang Anda ketahui tentang latar belakang kedua terdakwa dan kronologi kedatangan Anda di malam jahanam tersebut?" tanya Hakim Ketua dengan nada suara yang melunak, sangat kontras dengan bentakannya kepada Sekon beberapa saat lalu.

Viona menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun dengan dramatis seolah ia sedang mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang tersisa dalam jiwanya. Ia menoleh perlahan ke arah Sekon dan Karta yang duduk di seberang ruangan. Tatapan matanya yang semula sayu mendadak berkilat ngeri, sebuah akting luar biasa yang memperlihatkan ketakutan mendalam seorang korban terhadap pelakunya. Tubuhnya mulai bergetar hebat.

"Mereka... mereka sejak awal sudah punya niat buruk, Yang Mulia," ucap Viona, suaranya pecah di ujung kalimat.

Lihat selengkapnya