LUKA HATI SEKON DAN KARTA

Langit Berawan
Chapter #21

Bab 21: Kesaksian yang Menghancurkan Jiwa

"Lintang, dengarkan Kak Viona baik-baik. Kamu anak yang baik, dan kamu harus jujur demi ketenangan jiwa Papa dan Mama di alam sana," suara Viona Alamanda malam itu terdengar begitu lembut, menyerupai nyanyian sirine yang menghanyutkan di dalam kamar tidur Lintang yang temaram.

Tangan Viona yang dingin mengusap rambut Lintang yang kusut dengan kelembutan yang manipulatif. Di atas meja nakas, sebutir obat penenang dosis tinggi yang sengaja diberikan Viona telah larut sepenuhnya dalam segelas air yang tersisa separuh. Selama berminggu-minggu masa berkabung, Viona telah mengisolasi Lintang dari dunia luar, menanamkan racun berupa asumsi-asumsi palsu ke dalam kepala gadis yang sedang hancur secara mental itu.

"Kamu ingat, kan? Di kantor Papa dulu, Sekon dan Karta itu selalu mencuri pandang ke arahmu dengan tatapan yang penuh ambisi. Mereka mendekatimu pasti hanya untuk mengincar harta Papa dan posisi di perusahaan. Ingat-ingat lagi bagaimana gerak-gerik mereka di koridor kantor. Katakan saja yang sejujurnya di depan hakim besok, Lintang. Jangan biarkan Papa dan Mama mati penasaran," bisik Viona lagi, mengunci kesadaran Lintang dalam labirin trauma yang pekat.

Viona tersenyum penuh kemenangan di dalam hatinya yang sehitam jelaga. Narasi tentang "ambisi jabatan" ini adalah racun yang sama yang sempat ia suntikkan ke kepala Karta di ruang kerja Direktur Pemasaran pada malam jahanam itu. Jika malam itu ia berhasil membuat Karta percaya bahwa Sekon adalah bajingan yang mengincar takhta Tahir Group demi memikat Lintang, maka kini giliran Lintang yang ia buat percaya bahwa kedua pemuda kampung itu adalah sepasang serigala berbulu domba yang haus kekuasaan.

Lintang yang matanya sayu dan kosong hanya bisa mengangguk pelan seperti robot. Jiwanya telah lumpuh oleh duka, dan manipulasi psikologis yang dilakukan Viona secara perlahan telah membakar ketenangan batinnya, menggantikannya dengan prasangka-prasangka mengerikan yang terus berputar di kepalanya.

Keesokan paginya, ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat kembali dipadati oleh manusia yang haus akan drama. Ketukan palu Hakim Ketua memecah keheningan, memanggil saksi paling krusial dalam kasus pembantaian Menteng tersebut.

"Saksi selanjutnya, Saudari Lintang Aruna Tahir, dipersilakan memasuki ruang sidang," ujar panitera.

Ketika Lintang melangkah masuk, suasana sidang mendadak senyap. Gadis itu tampak seperti mayat hidup yang berjalan. Tubuhnya yang mungil dibalut pakaian serba putih, kontras dengan wajahnya yang pucat pasi dan lingkaran hitam tebal di bawah matanya. Langkah kakinya goyah, menyeret trauma yang teramat berat.

Di kursi pesakitan, Sekon dan Karta mendongak. Harapan yang sempat mati di dalam dada mereka mendadak menyala kembali melihat kehadiran Lintang. Bagi kedua pemuda Bojongsari itu, Lintang adalah satu-satunya orang yang tahu bahwa mereka tidak memiliki niat jahat. Mereka yakin, Lintang akan memberikan kesaksian objektif yang bisa membebaskan mereka dari fitnah jahanam ini.

Namun, Lintang bahkan tidak berani menoleh ke arah mereka. Ia duduk di kursi saksi dengan tubuh yang gemetar hebat, meremas saputangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

"Saudari saksi Lintang," Hakim Ketua berbicara dengan nada yang sangat berhati-hati, menyadari kondisi psikologis sang saksi yang rapuh. "Bisa Anda ceritakan apa hubungan Anda dengan kedua terdakwa, dan apa saja yang Anda ketahui seputar malam kejadian?"

Lihat selengkapnya