LUKA HATI SEKON DAN KARTA

Langit Berawan
Chapter #22

Bab 22: Pecahnya Aliansi Dua Sahabat

Dinding-dinding sel tahanan sementara di basement Pengadilan Negeri Jakarta Pusat terbuat dari beton tebal yang dilapisi jeruji besi berkarat, pengap oleh uap keringat kecemasan dan bau pesing yang menahun. Di ruangan sempit yang menyerupai kandang binatang itu, sisa-sisa kemanusiaan runtuh lebih cepat daripada runtuhnya sebuah bangunan tua yang diguncang gempa. Cahaya sore yang temaram menyelinap malu-malu dari ventilasi kecil di langit-langit, hanya cukup untuk memperlihatkan debu-debu yang menari di atas lantai semen yang dingin. Di dalam kotak nestapa itulah, dua pemuda Bojongsari yang dahulu saling berjanji untuk sehidup semati, kini duduk di sudut yang saling berseberangan, dipisahkan oleh jurang ketidakpercayaan yang mendalam setelah kesaksian Lintang menghancurkan sisa-sisa waras mereka.

Tekanan mental yang mereka hadapi bukan lagi sekadar ketakutan akan jeruji besi, melainkan bayang-bayang hukuman mati atau penjara seumur hidup yang sudah melambai-lambai di depan mata. Opini publik telah menyembelih karakter mereka, hakim telah memandang mereka dengan kejijikan, dan Lintang—gadis yang menjadi simbol kesucian dalam ingatan mereka—telah menunjuk mereka sebagai jagal. Dalam kondisi batin yang robek-robek, akal sehat menjadi barang mewah yang tak mampu mereka beli. Ketakutan yang ekstrem perlahan-lahan bermutasi menjadi paranoia yang beracun, merayap di sela-sela otak mereka, membisikkan kecurigaan bahwa musuh yang sesungguhnya mungkin tidak berada di luar jeruji, melainkan duduk tepat di hadapan mereka.

Karta adalah yang pertama kali menyerah pada bisikan iblis itu. Napasnya memburu, matanya yang bengkak karena siksaan kini menyala oleh amarah yang salah sasaran. Ia menatap Sekon yang sedang duduk memeluk lutut dengan pandangan yang penuh kebencian.

"Ini semua karena kau, Kon! Kau yang mengajakku ke Jakarta! Kau yang bersikap seolah-olah paling tahu tentang Om Tahir!" suara Karta memecah kesunyian sel, gemetar oleh keputusasaan yang berubah menjadi belati.

Sekon mendongak perlahan, matanya merah dan cekung. "Apa maksudmu, Karta? Kita datang ke sini bersama-sama karena kita ingin menolong."

"Menolong? Atau kau yang sebenarnya sudah punya rencana lain?" Karta berdiri, melangkah dengan goyah namun intimidatif menuju arah Sekon. Giginya yang patah membuat suaranya terdengar semakin mengerikan. "Jangan berlagak bodoh lagi, Sekon! Bagaimana mungkin Viona bisa tahu semua gerak-gerik kita? Bagaimana mungkin polisi bisa datang secepat itu seolah-olah mereka sudah menunggu di depan pagar? Pasti ada salah satu dari kita yang menjual informasi ini pada perempuan ular itu. Dan itu pasti kau! Kau sengaja mengorbankanku agar kau bisa mendapatkan Lintang dan posisi di kantor Om Tahir, kan?!"

Tuduhan keji itu menghantam dada Sekon seperti hantaman popor senapan yang berulang kali. Rasa sakit hati karena dikhianati oleh ingatan Lintang belum usai, kini ia harus menerima tusukan dari belakang oleh sahabat masa kecilnya sendiri. Sesuatu yang rapuh di dalam diri Sekon mendadak patah. Amarah yang selama ini ia pendam terhadap Viona, Tumbal, dan polisi-polisi korup, mendadak berbalik arah, meledak mencari pelampiasan.

Lihat selengkapnya