Tiga hari setelah palu hakim mengetuk vonis seumur hidup yang menjemput kewarasan Sekon dan Karta, ruang rapat utama di lantai tiga puluh enam Menara Tahir Group berubah menjadi sebuah altar penyembelihan yang baru. Bau parfum mahal yang beraroma kayu cendana dan kesturi memenuhi ruangan, mencoba membunuh bau amis konspirasi yang masih tertinggal di udara. Para pemegang saham, pria-pria paruh baya berutut berlemak yang wajahnya sewarna dengan kertas obligasi kuno, duduk melingkari meja jati besar yang permukaannya berkilau seperti cermin air yang menanti mangsa jatuh.
Di ujung meja, tempat di mana Om Tahir biasanya duduk dengan wibawa seorang patriark yang kaku, kini telah diduduki oleh Viona Alamanda.
Ia mengenakan setelan blazer sutra merah menyala, sebuah pilihan warna yang sengaja menantang masa berkabung yang belum genap sebulan. Merah itu sewarna dengan darah segar yang memancar dari leher pamannya, namun di tubuh Viona, warna itu menjelma menjadi lambang penaklukan yang mutlak. Rambutnya disanggul tinggi ke atas, memperlihatkan lehernya yang jenjang dan putih tanpa cacat, seolah-olah kulit itu tidak pernah bersentuhan dengan hawa jahanam dari ruang interogasi polisi atau ruang sidang yang penuh makian.
"Kematian Paman Tahir adalah tragedi keluarga yang teramat memukul jiwa saya," ucap Viona, suaranya mengalun lembut, merdu seperti petikan kecapi di malam hari namun memiliki ketajaman yang sanggup mengiris urat nadi. Ia meletakkan selembar kertas di atas meja—sebuah dokumen kuasa mutlak saham yang telah dibubuhi cap jempol darah tiruan dan tanda tangan palsu yang dibuat dengan ketelitian seorang ahli pemalsu lukisan kuno. "Namun, roda bisnis tidak boleh berhenti berputar demi membiarkan para pembunuh kampung itu menertawakan kelemahan kita dari balik jeruji besi. Demi ketenangan jiwa almarhum, saya bersedia memikul beban ini."
Para pemegang saham saling pandang. Mereka tidak bodoh; mereka tahu persis dari mana arah angin fitnah itu berembus. Beberapa dari mereka bahkan sempat melihat manifes perintah lisan yang dihapus atau tahu tentang hilangnya rekaman kamera pengawas di Jalan Sentosa. Namun di dunia yang dibangun oleh tumpukan uang kertas, kebenaran adalah sejenis hantu kelaparan yang tidak akan pernah bisa membeli selembar saham pun. Menolak Viona berarti menantang moncong senapan milik Tumbal dan jaringan birokrasi yang telah dibeli wanita itu hingga ke akar-akarnya. Maka, satu per satu, kepala-kepala beruban itu mengangguk takzim seperti anjing penurut yang menanti remah daging dari meja majikan.
Ketukan palu sidang internal perusahaan siang itu resmi menobatkan Viona Alamanda sebagai Direktur Utama Tahir Group yang baru. Kudeta itu berjalan dengan begitu anggun, tanpa riak, dan tanpa setitik pun noda hitam yang tertinggal di gaun merahnya. Dengan satu jentikan jarinya, seluruh aset, tanah perkebunan di Sumatra, hingga jaringan distribusi logistik di pelabuhan kini telah resmi berpindah ke dalam cengkeraman tangannya yang dingin.