Dua pemuda Bojongsari yang telah divonis mati oleh tatapan mata Lintang dan dihukum seumur hidup oleh pena hakim itu tidak dilemparkan ke blok yang berbeda. Hukum memiliki selera humor yang bajingan: karena kapasitas lapas yang telah luber oleh bajingan-bajingan kota, sipir penjara yang bermata juling dan beraroma tuak murah menyeret Sekon dan Karta ke dalam satu kotak sel yang sama di Blok C. Sel itu berukuran tak lebih besar dari kandang kerbau di kampung halaman mereka, pengap dengan satu lubang kakus di sudut ruangan yang memuntahkan bau kotoran manusia setiap kali angin berembus dari luar.
"Masuk kalian, psikopat kampung!" bentak sipir itu seraya mendorong punggung Sekon hingga pemuda itu tersungkur menabrak dada Karta yang sudah lebih dulu berada di dalam. Pintu besi ditutup dengan dentuman yang memekakkan telinga, jedarrr, menyisakan bunyi gembok berkarat yang diputar dari luar.
Selama empat minggu pertama, sel sempit itu menjelma menjadi sebuah makam yang dihuni oleh dua ekor hantu yang saling mengutuk. Kebencian yang ditanamkan oleh Viona di pengadilan telah tumbuh subur di dalam kepala mereka menjadi pohon berduri yang beracun.
Mereka duduk di sudut yang saling berseberangan, memaku pantat mereka di atas semen yang dingin tanpa pernah saling bertukar pandang. Jika mata mereka tidak sengaja beradu saat hendak bergantian menggunakan kakus, udara di dalam sel mendadak berubah menjadi sedingin es, dipenuhi oleh dengus napas yang sarat akan paranoid.
Karta menganggap Sekon adalah pembawa sial yang menyeretnya ke dalam sumur jahanam ini, sementara Sekon menatap Karta sebagai seorang pengkhianat berotak udang yang telah menusuk punggungnya di depan majelis hakim demi menyelamatkan kulitnya sendiri.
Mereka makan dari satu omplong seng yang berisi nasi jagung dan sayur ubi berulat yang dilemparkan penjaga lewat celah bawah pintu, membaginya dengan keheningan yang begitu pekat hingga suara kunyahan gigi mereka terdengar seperti suara kecoak yang sedang menggerogoti kayu lapuk. Namun, tubuh manusia memiliki batas untuk menampung racun kebencian.
Di minggu kelima, malam turun dengan membawa hujan lebat yang mengguyur Jakarta, mengirimkan hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang dari celah-celah ventilasi sel yang tinggi. Air hujan merembes masuk, membasahi lantai semen dan memaksa kedua pemuda itu meringkuk memeluk tubuh mereka yang kian kurus. Baju kemeja putih yang mereka gunakan saat sidang kini telah berubah warna menjadi abu-abu dekil, robek di bagian lengan, dan dipenuhi bintik-bintik kurap akibat air penjara yang kotor.
Karta mulai menggigil. Tubuhnya yang rapuh sejak malam penyiksaan di Polres tidak pernah benar-benar pulih. Suara giginya yang berantukan memecah kesunyian malam, bersahut-sahutan dengan suara petir yang menggelegar di atas langit Cipinang. Di sudut seberang, Sekon menatap bayangan sahabatnya itu yang bergerak-gerak di bawah cahaya lampu koridor yang remang. Sesuatu yang ganjil mendadak merayap di dalam dada Sekon—sejenis rasa iba yang purba, yang biasa ia rasakan dulu ketika melihat seekor anak anjing yang hanyut di sungai Bojongsari.