Dua puluh empat bulan adalah waktu yang cukup bagi dinding-dinding semen Blok C untuk berhenti meneteskan hawa asing, dan mulai terasa seperti kulit kedua bagi Sekon dan Karta. Mereka tidak lagi mengenakan kemeja putih dekil yang koyak di bagian lengan. Kini, tubuh mereka dibungkus oleh kaos oblong biru khas narapidana yang warnanya telah pudar sewarna dengan langit Jakarta yang tertutup polusi pabrik. Di bawah atap yang dihuni oleh ribuan lelaki buangan itu, mereka telah belajar bahwa satu-satunya cara agar tidak mampus dikencingi oleh keadaan adalah dengan membiarkan hati mereka mati rasa terlebih dahulu.
Sekon telah bertransformasi sepenuhnya menjadi sosok pria yang dingin, pendiam, dan jarang mengobrol tanpa tujuan yang jelas. Amarahnya yang dahulu meledak-ledak laksana petir di siang bolong kini telah membeku, mengendap di dasar dadanya menjadi sebilah mata pisau yang berkilau diam dalam kegelapan. Wajahnya yang dahulu ramah kini dihiasi gurat-gurat tegas dengan sepasang mata yang cekung namun tajam, sejenis tatapan mata burung hantu yang sedang mengintai tikus dari atas dahan pohon mati. Ia tidak lagi meratapi nasibnya di depan lubang kakus; ia menghabiskan malam-malamnya dengan menghitung jumlah ketukan sepatu sipir yang berjaga, menghafal ritme pergantian sif pengawal, dan mempelajari silsilah kekuasaan para bandar narkoba serta preman kelas kakap di dalam lapas. Sekon tahu, di tempat di mana hukum negara tidak berlaku, kekuatan dibentuk oleh informasi dan ketabahan menahan lapar.
Sementara itu, Karta tumbuh menjadi lelaki yang penuh perhitungan, seolah-olah otaknya telah digantikan oleh sebuah sempoa kuno yang terus berdentang menghitung untung dan rugi dari setiap jengkal napas mereka. Ketakutannya yang dahulu membuat tubuhnya bergetar layaknya orang terserang demam malaria kini telah bermutasi menjadi ketelitian yang mengerikan. Karta adalah orang yang mengatur bagaimana mereka harus membagi jatah nasi jagung berulat agar tidak lemas, siapa saja sipir yang bisa disuap dengan sebungkus rokok kretek untuk mendapatkan selembar kertas koran bekas, dan narapidana mana saja yang bisa dijadikan sekutu sementara. Jika Sekon adalah otot dan ujung tombak yang bergerak di bawah bayang-bayang, maka Karta adalah otak kecil yang merajut benang-benang strategi di balik tirai kelambu sel mereka yang apak.
Persahabatan dua anak manusia dari Bojongsari yang sempat pecah berkeping-keping karena air mata buaya Viona kini telah bertaut kembali. Namun, pautan itu tidak lagi sewangi bunga melati atau selugu tawa masa muda mereka saat mengejar jangkrik di pematang sawah. Ikatan mereka yang baru lahir dari rahim pengkhianatan yang sama, dibakar oleh dendam yang serupa, dan ditempa oleh pukulan popor senapan yang membekas di tulang mereka. Mereka adalah dua separuh bagian dari satu tubuh yang sedang merangkak keluar dari liang kubur; jika Sekon terluka, Karta yang akan meracik obat dari rebusan daun liar di sudut lapangan lapas, dan jika Karta diancam oleh preman blok sebelah, kepalan tangan Sekon yang akan memastikan gigi preman itu rontok ke atas lantai semen sebelum sipir sempat meniup peluit mereka.