"Geser pantatmu, tikus kampung! Jangan biarkan orang baru ini menyentuh ember kencing kita," desis Karta, suaranya menyerupai gesekan dua lembar ampelas karat di kegelapan sel nomor tiga belas.
Malam itu, gerbang Blok C berdentang keras laksana lonceng kematian di gereja tua yang ditinggalkan jemaatnya. Sipir penjara berwajah bopeng, yang mulutnya selalu menyemburkan bau tuak asam, menyeret seonggok daging manusia yang ringkih dan melemparkannya ke dalam sel mereka dengan kemarahan yang malas. Lelaki baru itu tersungkur di atas lantai semen yang dingin, kepalanya hampir menghantam sudut bak kakus yang memuntahkan aroma busuk menahun. Pintu besi ditutup kembali dengan dentuman jedarrr yang memekakkan telinga, mengunci mereka bertiga dalam kotak nestapa yang sama.
Dua tahun telah mengajarkan Sekon dan Karta untuk tidak pernah memercayai apa pun yang memiliki bayangan. Mereka tidak lagi melihat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang mulia, melainkan sebagai seonggok daging yang membawa ancaman atau keuntungan. Sekon, yang tubuhnya kini sekokoh batang pohon jati pasca-dua tahun menempa diri dalam keheningan penjara, bergerak perlahan dari sudut selnya. Sepasang matanya yang cekung menatap tajam ke arah lelaki yang baru saja berguling di lantai semen.
Lelaki itu mengenakan kaos oblong kuning yang robek di bagian ketiak, dipenuhi noda kecap kering dan bau keringat ketakutan yang pekat. Tubuhnya kurus kering, hampir-hampir menyerupai kerangka manusia yang dibungkus kulit ari yang keriput. Seluruh badannya gemetar hebat laksana daun pisang yang dihantam angin buritan, dan jemarinya yang panjang serta hitam di ujungnya terus-menerus menggaruk lengan kirinya dengan gerakan histeris yang gila.
"Siapa namamu, bajingan?" tanya Sekon dengan nada suara yang mendadak dingin, rendah, dan bergetar dengan daya magis yang sanggup membuat nyali lelaki baru itu menciut.