LUKA HATI SEKON DAN KARTA

Langit Berawan
Chapter #28

Bab 28: Misteri Indigo Malam

"Jangan bunuh saya, Om Tahir! Demi Tuhan, bukan saya yang memegang belati perak itu!" jerit Tumbal, suaranya melengking memecah keheningan sel nomor tiga belas laksana lengkingan burung hantu yang sayapnya patah diterjang badai.

Malam itu, Lembaga Pemasyarakatan Cipinang kembali dibungkus oleh kabut hitam yang beraroma comberan dan uap belerang. Jam di dinding koridor luar baru saja berdentang dua kali, menandai waktu di mana para sipir penjara biasanya tertidur pulas dengan botol tuak yang masih menggantung di jemari mereka. Di dalam kotak beton yang pengap itu, Sekon dan Karta mendadak terjaga. Jiwa mereka yang telah ditempa oleh dua tahun masa hukuman seumur hidup tidak pernah benar-benar tertidur; telinga mereka telah bertransformasi menjadi kuping binatang buruan yang sanggup mendengar suara jatuhnya sebatang jarum di atas lantai semen.

Di sudut dekat lubang kakus, lelaki baru yang bernama Tumbal itu sedang berguling-guling di atas lantai semen dengan tubuh yang basah kuyup oleh keringat sedingin es. Wajahnya yang kurus kering dan menyerupai tengkorak terdistorsi oleh ketakutan yang teramat sangat, matanya yang terpejam rapat berkedut liar laksana ada ulat yang merayap di balik kelopak kulitnya. Jemarinya yang panjang dan hitam di ujungnya mencakar-cakar dadanya sendiri hingga meninggalkan bilur-bilur merah yang mengeluarkan darah segar.

"Dia yang menyuruh kami... perempuan iblis itu... wajahnya cantik seperti malaikat tapi hatinya sehitam jelaga kuali," racau Tumbal lagi, giginya berantukan begitu keras hingga mengeluarkan bunyi klik-klik-klik yang memuakkan di dalam kegelapan ruangan. "Dia memakai baju merah... merah sewarna darah Om Tahir... dia tersenyum saat menyerahkan map kulit hitam itu..."

Karta bergerak perlahan dari atas tikar pandannya yang robek, merangkak tanpa suara seperti seekor macan tutul yang sedang mengintai mangsa di semak-semak Bojongsari. Rantai di kakinya sengaja ia tahan dengan tangan agar tidak menimbulkan gemerincing logam yang bisa memutus igauan jahanam tersebut. Ia melemparkan tatapan mata yang penuh dengan perhitungan yang merayap ke arah Sekon.

Lihat selengkapnya