"Kau tahu apa yang terjadi pada tikus jalanan yang mengigau tentang orang mati di depan macan lapar, Tumbal?" tanya Karta, suaranya menyerupai desis minyak panas yang ketumpahan air di tengah terik matahari lapangan Lembaga Pemasyarakatan Cipinang.
Siang itu, lapangan olahraga Blok C dipanggang oleh matahari Jakarta yang gersang dan sewarna dengan karat besi tua. Bau debu tanah kering bercampur dengan aroma keringat asam dari ratusan lelaki berkaos oblong biru yang sedang mondar-mandir tanpa tujuan, seperti kawanan lalat yang terperangkap di dalam toples kaca. Di sudut dekat tiang gawang yang jaringnya sudah lama lapuk dimakan rayap, Tumbal si pencuri minimarket sedang duduk mendekam. Tubuhnya yang kurus kering tampak kian ringkih di bawah lindungan bayang-bayang tiang, jemarinya yang hitam terus gemetar memegangi sebatang rokok kretek murah yang hampir habis membakar kuku jarinya.
Sekon berdiri beberapa meter di belakang Karta, melipat kedua tangannya yang sekokoh batang pohon jati di atas dada. Sepasang matanya yang cekung dan sedingin es mengawasi koridor lapangan, menghitung jarak pandang dua orang sipir yang sedang asyik mengunyah tahu goreng di bawah kanopi pos penjagaan. Dua tahun di dalam kotak beton telah mengajarkan Sekon bagaimana caranya menjadi dinding yang tak kasat mata; ia tidak perlu mengotori tangannya dengan pukulan mentah jika otak kecil Karta sudah mulai merajut benang-benang provokasi.
Karta melangkah maju, sengaja menghentakkan ujung sepatu karetnya ke atas tanah hingga debu cokelat beterbangan mengotori kaos kuning robek milik Tumbal. Pria kurus itu terlonjak kaget, matanya yang cekung bergerak liar penuh paranoia laksana seekor ulat yang mendadak disiram air sabun.
"Mas... Mas Karta, ada apa?" bisik Tumbal, suaranya bergetar hebat. "Saya tidak ambil jatah nasi jagung kalian siang ini, sumpah..."
"Nasi jagung itu sampah, Tumbal. Tapi igauanmu tadi malam adalah urusan lain," kata Karta, wajahnya yang dihiasi deretan gigi compang-camping akibat sisa pertarungan masa lalu kini menyunggingkan senyum yang teramat mengerikan. Tanpa peringatan selembar pun, Karta melayangkan tendangan pendek yang bersarang telak di rusuk kurus Tumbal.
Bugh!