Ada sejenis keheningan yang lebih menakutkan daripada gemuruh petir di luar sana, dan keheningan itu malam ini bersumber dari sudut sel dekat lubang kakus. Tumbal, dengan kaos kuningnya yang kini berlumuran noda darah kering akibat tamparan Karta di lapangan olahraga siang tadi, duduk melingkar seperti seekor ulat yang menanti ajal. Tubuhnya yang kurus kering terus berguncang hebat, bukan lagi karena gigitan hawa dingin atau siksaan sakau obat penenang, melainkan karena jiwanya telah benar-benar telanjang di depan sepasang mata Sekon yang sedingin batu kuburan.
Karta duduk bersila di atas tikar pandan yang robek, jemarinya yang kurus memegangi sebatang korek api kayu yang tidak dinyalakan. Otak kecilnya yang penuh dengan kalkulasi birokrasi telah berhenti berdentang; ia tahu bahwa malam ini, tidak perlu ada kepalan tangan yang melayang. Rasa sakit fisik siang tadi telah membuka pintu gerbang dari sebuah bendungan rahasia yang selama dua tahun ini menyumbat tenggorokan pria kurus di depan mereka.
"Aku tidak pernah ingin menjadi malaikat maut, Mas..." suara Tumbal mendadak pecah di antara deru angin badai yang menyapu ventilasi. Itu bukan lagi desis ketakutan seorang pencuri minimarket, melainkan sejenis lolongan keputusasaan dari seekor binatang yang sadar bahwa perut bumi tidak akan pernah sudi menyembunyikan dosanya. "Tapi perempuan ular itu... Viona Alamanda... dia datang membawa aroma wewangian yang sanggup membuat iman seorang bajingan rontok ke lantai."
Sekon tidak bergeser satu senti pun dari posisinya yang bersandar pada dinding semen penuh goresan kapur tulis. Di bawah cahaya bohlam yang berkedip-kedip jalang, wajahnya tampak sekokoh topeng kayu kuno yang tidak mengenal belas kasihan. "Bicaralah, Tumbal. Sebelum lidahmu membusuk karena menyimpan kebohongan."
Tumbal menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang hitam di ujung kuku jarinya. Air mata bercampur lendir hidung dan sisa darah dari bibirnya yang pecah merembes di sela-sela jari, menetes perlahan ke atas lantai semen yang dingin—lantai yang malam ini bersiap meminum sebuah kebenaran yang paling amis.