"Jika kau berpikir dinding batu ini dibangun untuk menyembunyikan bangkai, kau keliru, Tumbal," kata Karta, suaranya meluncur pelan dari celah bibirnya yang pecah-pecah, terdengar kering seperti gesekan pelepah pisang kering yang ditiup angin kemarau. "Dinding ini dibangun agar bau busuk itu mengendap, menjadi racun, lalu membusukkan siapa saja yang tinggal di dalamnya."
Malam di sel nomor tiga belas seolah kehilangan waktu. Angin badai yang sejak sore tadi mengamuk di atas atap seng Cipinang mulai meninggalkan sisa-sisa kemarahan berupa tetesan air yang jatuh berirama melalui celah ventilasi. Di sudut dekat lubang kakus, Tumbal—si adik kandung kepala preman yang mengira dirinya cerdik karena berhasil menukar kebebasan dengan sekeranjang susu kaleng curian—mendongak perlahan. Tubuhnya yang kurus kering masih menyisakan sisa-sisa gigilan sakau, namun ada jenis kengerian lain yang mendadak merayap naik dari ujung kakinya, sejenis firasat buruk yang biasa dirasakan tikus got ketika menyadari jalan keluar tersumbat oleh genangan air semen.
Ia menatap Karta yang duduk bersila dengan mata yang tak berkedip, lalu menggeser pandangannya ke arah Sekon yang berdiri tegak laksana arca batu jati kuno di bawah remang lampu koridor. Sepanjang malam tadi, ia telah memuntahkan seluruh isi perutnya, seluruh rahasia berdarah di Jalan Sentosa 1, mengira bahwa dua tahanan tua yang menemaninya di kotak jahanam ini hanyalah sepasang pendengar budiman yang kebetulan memiliki nama yang sama dengan korban-korban masa lalunya.
Namun, udara malam ini mendadak terasa terlalu padat. Ada aura dendam yang begitu memancar dari tubuh kedua pria berkaos oblong biru pudar itu, sejenis keheningan yang biasa mengelilingi para algojo di tiang gantungan sebelum subuh tiba.
"Kalian..." Tumbal terbata, lidahnya yang kelu oleh sisa obat penenang mendadak terasa bengkak di dalam mulut. Matanya yang cekung melotot putih, bergerak liar di antara guratan kapur putih yang memenuhi dinding sel. "Kalian bukan penjahat kapak merah? Kalian bukan rampok pasar induk?"
Karta tidak segera menjawab. Ia meraih sebatang korek api kayu yang sejak tadi dimainkannya, menyalakan ujungnya dengan sekali goresan pada semen yang kasar. Cahaya api yang kecil dan jalang itu menyala selama beberapa detik, menerangi deretan giginya yang compang-camping akibat sisa pertarungan masa lalu, sebelum akhirnya ditiup mati oleh napasnya sendiri.
"Dua tahun lalu, seorang perempuan dengan blazer merah menyala berdiri di sebuah gedung pengadilan yang megah," ucap Karta dengan suara yang menyerupai bisikan dukun santet di pemakaman Bojongsari. "Dia menangis begitu indah, Tumbal. Air matanya mengalir sewangi parfum import, dan dia bersumpah di bawah kitab suci bahwa ada dua pemuda kampung—dua binatang buas berdarah dingin—yang telah menggorok leher pamannya demi seonggok draf saham dan cinta seorang gadis bernama Lintang. Kau tahu siapa nama kedua binatang buas yang tertulis di koridor koran harian itu?"
Tumbal merasakan jantungnya berhenti berdetak selama satu ketukan yang panjang. Ingatannya mendadak ditarik kembali pada tajuk utama surat kabar yang sempat ia baca di kolong jembatan terminal setahun lalu, pada foto dua pemuda berwajah hancur berlumuran darah yang dikutuk oleh jutaan pasang mata di seluruh negeri.