Kematian acap kali datang tanpa mengetuk pintu, meluncur serupa ular sawah yang menyelinap ke bawah tikar saat manusia terlelap. Di dalam sel nomor tiga belas Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, aroma maut itu terasa nyata, berbaur dengan uap comberan yang tersisa dari hujan semalam. Fajar yang menyembul dari balik jeruji besi tidak membawa kehangatan, melainkan cahaya kuning pucat yang menelanjangi ketakutan di wajah Tumbal. Pria kurus itu masih merangkak di lantai semen, memegangi ujung celana biru Sekon seolah kain loak itu adalah tali penyelamat yang memisahkannya dari dasar jurang kegelapan.
Sekon menatap ubun-ubun Tumbal yang dipenuhi ketombe dan debu tanah lapas. Rasa benci yang dua tahun lalu membakar dadanya kini telah bermutasi menjadi sejenis ketenangan yang dingin—ketenangan seorang jagal berpengalaman yang tahu kapan harus mengayunkan kapak dan kapan harus menaruh umpan. Ia melepaskan cengkeraman tangan si pencuri minimarket dengan sentakan pelan namun tegas.
"Kau mengira jeruji besi ini adalah perisai gaib yang bisa menahan peluru, Tumbal?" tanya Sekon, suaranya mengalun rendah, bergema di antara empat sudut beton yang sempit. "Kau mengira para sipir berwajah bopeng itu akan mempertaruhkan nyawa mereka demi melindungi seorang pencandu yang gemar mencuri susu kaleng?"
Tumbal mendongak, matanya yang cekung bergerak liar penuh paranoia. Air liur yang mengering di sudut bibirnya menyisakan garis putih yang kontras dengan kulit wajahnya yang kuyu. "Penjara ini... penjara ini tempat teraman, Mas. Polisi berjaga di depan, ada menara pengawas. Viona tidak bisa menyuruh orang masuk ke sini hanya untuk membunuh seekor tikus got seperti saya."
Karta, yang sejak tadi berdiri bersandar pada besi pintu sel, melepaskan tawa yang terdengar laksana ringkik kuda sekarat. Ia melangkah mendekat, membiarkan rantai di kakinya mengeluarkan bunyi logam yang memuakkan di atas porselen retak dekat lubang kakus.
"Kau benar-benar dungu, ya?" desis Karta, matanya yang compang-camping akibat sisa pertarungan masa lalu berkilat sinis. "Uang Viona Alamanda bisa membeli hukum sandiwara yang mengirim kami ke sini. Uang itu juga bisa membeli kepala sipir, membeli kunci sel ini, atau menyelipkan racun tikus ke dalam omplong nasi jagungmu besok siang. Jika perempuan berblazer merah itu tahu kau masih bernapas di dalam Cipinang, kotak dua kali tiga meter ini tidak akan menjadi pelindungmu. Tempat ini akan berubah menjadi peti mati yang sudah digali lobangnya sejak kau memecahkan kaca minimarket."
Kalimat Karta menyengat batin Tumbal laksana sengatan tawon hutan. Seluruh tubuhnya kembali berguncang hebat. Ia tahu, kata-kata kedua pria di depannya bukanlah gertakan kosong. Viona adalah perempuan yang sanggup tersenyum anggun saat menyuruhnya menghujamkan belati perak ke dada Om Tahir. Perempuan yang dengan satu jentikan jari sanggup melenyapkan rekaman kamera pengawas di seluruh Jalan Sentosa. Menembak dadanya di gang gelap dekat terminal adalah bukti bahwa nyawanya tidak lebih berharga daripada selembar kertas pembungkus daging.
Sekon kembali berlutut, menyejajarkan matanya dengan pandangan Tumbal yang kosong. Intuisi tajam warisan dari leluhur Bojongsari membuat wajah Sekon tampak seperti arca batu yang sanggup membaca sisa takdir manusia.