Uang perak dan kertas-kertas lusuh yang disimpan di bawah kasur kapuk atau di dalam celengan bambu di pelosok Bojongsari rupanya memiliki kaki-kaki gaib yang sanggup melompati tembok tinggi berselimut kawat berduri.
Dua tahun silam, sebelum kedua orang tua Sekon dan Karta mengunci pintu rumah rapat-rapat karena malu melahirkan sepasang jagal, mereka sempat menyerahkan buntelan kain mori berisi sisa tabungan hasil panen padi dan penjualan sepasang sapi kurus kepada Mang Udin. Uang itu diniatkan untuk menyewa pengacara kota yang pandai bersilat lidah. Namun, di bawah langit peradilan Jakarta yang dipenuhi hakim bermata fulus, lembaran rupiah dari kampung halaman itu hanya berakhir menjadi tumpukan kertas tak berharga yang dilepeh oleh panitera.
Hari ini, di bawah siraman matahari Cipinang yang membakar atap seng Blok C, sisa-sisa uang keringat orang tua mereka akhirnya menemukan takdirnya yang paling jahanam. Sisa tabungan itu tidak lagi digunakan untuk memohon keadilan formal, melainkan dibakar untuk membeli secuil celah di dinding birokrasi lapas yang penuh lubang tikus.
Karta berdiri di bayang-bayang tiang koridor dekat dapur umum, sepasang matanya mengawasi langkah kaki seorang sipir muda bernama Sipir Bambang. Berbeda dengan rekan-rekannya yang memiliki perut buncit sewarna botol tuak dan gemar melayangkan tendangan lars ke rusuk narapidana, Bambang adalah pengecualian. Wajahnya bersih, jernih seperti anak kuliahan yang tersesat di sarang penyamun, dan sepasang matanya selalu menyiratkan rasa bersalah setiap kali ia harus mengunci jeruji besi di sore hari. Pemuda itu memiliki satu kelemahan yang sangat manusiawi: ibunya sedang sekarat di rumah sakit pinggiran kota akibat kanker rahim, dan gaji dari negara tidak pernah cukup untuk menebus obat-obatan yang dihargai setinggi langit.
"Aku tahu kau bukan bajingan seperti mereka, Bambang," bisik Karta, suaranya meluncur tipis dari sudut bibir yang robek, nyaris tenggelam oleh deru mesin genset lapas yang batuk-batuk kekurangan solar.
Sipir muda itu terlonjak, menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum memaku pandangannya pada kaos oblong biru pudar milik Karta. Tangannya yang menggenggam tongkat pemukul tampak gemetar. "Jangan mendekat, Karta. Jika kepala jaga melihat kita mengobrol, aku bisa dipindahkan ke Nusakambangan besok pagi."
"Kepala jagamu sedang asyik menghitung uang setoran dari bandar sabu Blok B di ruangannya," timpal Karta dengan senyum compang-camping yang memperlihatkan deretan giginya yang patah. "Dengarkan aku. Pekan depan, truk pasokan makanan Mang Udin akan masuk membawa karung-karung beras. Di dalam ban serep kabin belakang, ada sebuah amplop cokelat tebal berisi sisa tabungan kampungku. Tiga puluh juta rupiah, tunai tanpa potongan bank. Ambil dua puluh lima juta untuk biaya rumah sakit ibumu di Bogor, dan gunakan lima juta sisanya untuk membelikanku sebutir benda kecil dari toko elektronik glodok."
Bambang menelan ludah, jakunnya naik turun dengan dramatis. Angka dua puluh lima juta terasa laksana air surga yang sanggup memperpanjang napas ibunya yang kian ringkih. "Benda apa yang kau inginkan? Pisau? Ponsel?"